
LewatLensa.com – Panggung modeling bagi generasi muda kini tak lagi sekadar menjadi ruang untuk memperlihatkan kemampuan berjalan di atas runway atau tampil di depan kamera. Hal tersebut terlihat dalam penyelenggaraan Grand Final Cover Girl, Boy & Kids 2026 yang digelar Yayasan Pembina Model Indonesia (YAPMI) di ITC Cempaka Mas, Jakarta, Minggu (20/9/2026).
Memasuki usia empat dekade perjalanan Majalah MODEL Indonesia, ajang tersebut kembali membawa misi yang lebih luas, yakni menemukan sekaligus membina talenta muda agar memiliki kesempatan berkembang di berbagai bidang industri kreatif. YAPMI tidak menempatkan modeling sebagai tujuan akhir, melainkan salah satu pintu masuk bagi peserta untuk mengenali potensi dan mengembangkan kemampuan mereka.
Ketua Umum YAPMI Iwan Masse Setiawan mengatakan proses pembinaan yang dilakukan kepada para peserta diarahkan berdasarkan bakat dan minat masing-masing. Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi model, tetapi juga memiliki peluang mengembangkan kemampuan di bidang lain.
“Anak-anak ini bukan hanya dilatih menjadi model. Mereka juga bisa menjadi MC, penyanyi, pemain film dan mengembangkan bakat-bakat lainnya,” ujar Iwan.
Dari Modeling ke Ekosistem Industri Kreatif
Konsep pembinaan tersebut memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap ajang pencarian bakat. Kemampuan tampil di depan publik dapat menjadi modal awal untuk memasuki bidang yang lebih luas, mulai dari presenter, musik, seni peran hingga perfilman.
Majalah MODEL Indonesia sendiri mencatat perjalanan panjang sejak mulai terbit pada 1986. Dalam perkembangannya, media tersebut tidak hanya berkaitan dengan dunia modeling dan fashion, tetapi juga mencakup seni, gaya hidup dan hiburan. YAPMI sebagai organisasi yang menaungi program pembinaan model juga memiliki fokus pada peningkatan kualitas model Indonesia melalui pelatihan dan berbagai kegiatan promosi.
Program Cover Boy, Cover Girl dan Cover Kids menjadi salah satu bagian dari perjalanan tersebut. Menurut informasi yang dipublikasikan Majalah MODEL Indonesia, ajang ini telah berlangsung sejak 1986 dan menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan talenta muda ke dunia seni dan hiburan, mulai dari sesi pemotretan hingga fashion show. Sejumlah nama yang kemudian dikenal di industri hiburan Indonesia juga tercatat pernah mengikuti perjalanan ajang tersebut.
Tiga Kategori, Sembilan Talenta Muda

Pada Grand Final 2026, peserta terbagi dalam tiga kategori, yaitu Cover Kids, Cover Boys dan Cover Girls. Masing-masing kategori menampilkan tiga finalis yang berhasil melewati rangkaian proses sebelumnya.
Untuk kategori Cover Kids, tiga besar terdiri atas Adreena Mikhayla Pouran Ancary, 7 tahun, Khaylila Zhafira Maulidya, 7 tahun, dan Nafisha Amelia Akbar, 5 tahun.

Sementara kategori Cover Boys diisi Muhammad Syamsul Islam, Muhammad Iqbal Arrafiqi, dan Athur Ebenetty Louis Gillet.

Adapun kategori Cover Girls menghadirkan Prada Aisyah Esa Asmoro, Chilla Jonita, dan Margareth Nathania Siambaton.
Kehadiran peserta dari berbagai daerah juga menjadi bagian penting dalam ajang tahun ini. Aktor Harry De Fretes, yang turut menjadi bagian dari dewan juri, mengapresiasi proses regenerasi talenta yang dilakukan YAPMI. Ia menyebut keberadaan peserta dari daerah menunjukkan bahwa potensi generasi muda untuk berkembang di bidang kreatif tidak hanya datang dari Jakarta.
Tak Hanya Belajar Tampil, Peserta Mendapat Pembekalan
Upaya pembinaan juga terlihat dari materi yang diberikan kepada peserta. Selain menjalani proses penilaian dan penampilan di panggung, para finalis memperoleh pembekalan yang berkaitan dengan kebutuhan mereka ketika memasuki industri hiburan.
Salah satunya melalui workshop perawatan kulit dan penampilan yang diberikan dokter spesialis dermatologi, venereologi dan estetika dr. Suci Budhiani, Sp.DVE. Pembekalan tersebut diarahkan untuk memberikan pemahaman mengenai perawatan diri sebagai bagian dari kesiapan seorang talent di depan publik.
Panggung grand final juga bersinggungan dengan sektor fashion. Desainer Annisa dari Naomi Clothing menghadirkan koleksi bertema back to nature, memperlihatkan bagaimana ajang tersebut juga mempertemukan dunia modeling dengan pelaku industri kreatif lainnya.
Membuka Kemungkinan Masuk Dunia Film
Salah satu perkembangan menarik dari penyelenggaraan tahun ini adalah keterkaitan program pembinaan YAPMI dengan proyek perfilman.

YAPMI tengah mengembangkan film berjudul “Im Gottes Namen Betreten Papua”, sebuah proyek yang membawa tema sejarah, perjuangan, kebinekaan, kemanusiaan dan toleransi. Menurut Eksekutif Produser Rudy Darmawanto, cerita film tersebut terinspirasi dari perjalanan sejarah tokoh-tokoh yang memiliki keterkaitan dengan Papua dan Kesultanan Tidore.
Para peserta Cover Girl, Boy & Kids 2026 juga berpeluang mengikuti proses seleksi untuk terlibat dalam proyek tersebut. Dengan demikian, proses pencarian talenta yang berlangsung melalui ajang modeling berpotensi berlanjut ke tahapan yang lebih luas, termasuk seni peran dan perfilman.
Bagi YAPMI, pola seperti ini memperlihatkan bahwa sebuah kompetisi tidak harus berhenti ketika pemenang diumumkan. Pengalaman tampil, pembinaan, pelatihan, serta kesempatan bertemu dengan pelaku industri dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang talenta muda.
Empat Dekade Menjaga Regenerasi
Penyelenggaraan Cover Girl, Boy & Kids 2026 sekaligus menjadi momentum penting bagi Majalah MODEL Indonesia yang memasuki perjalanan 40 tahun. Sejak 1986, media tersebut berkembang dari publikasi yang berfokus pada mode dan modeling menjadi media yang turut membahas gaya hidup, seni dan hiburan.
Perjalanan panjang tersebut juga memperlihatkan bahwa regenerasi menjadi bagian penting dalam industri kreatif. Talenta baru membutuhkan ruang untuk tampil, mendapatkan pembinaan, mengenal standar industri, sekaligus memahami bahwa kemampuan yang dimiliki dapat dikembangkan ke berbagai arah.
Karena itu, Grand Final Cover Girl, Boy & Kids 2026 tidak hanya dapat dilihat sebagai panggung penobatan pemenang. Di balik kompetisi tersebut terdapat proses pencarian, pembentukan kepercayaan diri, pengembangan kemampuan dan pembukaan akses menuju ekosistem seni serta hiburan.
Melalui ajang ini, YAPMI kembali membawa gagasan bahwa generasi muda tidak harus berhenti pada satu profesi. Dari runway mereka dapat belajar tampil, dari kamera mereka dapat belajar berekspresi, dan dari proses pembinaan mereka dapat menemukan bidang yang paling sesuai dengan kemampuan serta minat masing-masing.
Pada akhirnya, mahkota pemenang menjadi salah satu bagian dari perjalanan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana para talenta muda tersebut mengembangkan kesempatan yang telah mereka peroleh untuk terus berkarya di industri kreatif Indonesia.