Teater Koma Hadirkan ‘Koma Sejenak’, Pentaskan Dua Lakon Karya N. Riantiarno dalam Satu Panggung

LewatLensa.com – Teater Koma kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga keberlangsungan seni pertunjukan di Indonesia melalui program terbaru bertajuk Koma Sejenak. Dalam edisi perdananya, program ini menghadirkan dua lakon karya almarhum N. Riantiarno, yakni Kebohongan Di Atas Atap dan Srikandi, yang akan dipentaskan dalam satu rangkaian pertunjukan dengan pendekatan penyutradaraan berbeda.

Pementasan Koma Sejenak dijadwalkan berlangsung pada 22–23 Oktober 2026 di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Menghadirkan dua lakon berdurasi sekitar satu jam, program ini menjadi ruang bagi Teater Koma untuk mengeksplorasi format pertunjukan yang lebih ringkas sekaligus membuka kemungkinan baru dalam menghidupkan karya-karya N. Riantiarno melalui perspektif kreatif generasi penerusnya.

Program Koma Sejenak dirancang sebagai ruang jeda yang reflektif sekaligus eksperimental. Berangkat dari naskah-naskah pendek yang ditulis N. Riantiarno pada masa pandemi, program ini memberikan kesempatan bagi para sutradara untuk menghadirkan interpretasi baru terhadap gagasan, kritik sosial, dan pesan kemanusiaan yang terkandung dalam karya-karyanya.

‘Kebohongan Di Atas Atap’: Ketika Kebohongan Menjadi Cermin Kehidupan

Lakon pertama, Kebohongan Di Atas Atap, mengangkat kisah Gamal Nashar, seorang budayawan sekaligus pengusaha kaya yang tengah terbaring lemah di rumah sakit. Dalam kondisi kritis, Gamal mendapati dirinya berada di atas atap bersama seorang gadis kecil. Di tempat tersebut, ia menghadapi situasi ganjil: setiap kali berbohong, hidungnya memanjang seperti tokoh Pinokio dalam cerita klasik.

Peristiwa tersebut menjadi pintu masuk bagi Gamal untuk menghadapi berbagai manipulasi dan kebohongan yang telah dibangunnya sepanjang hidup. Hidung yang terus memanjang bukan sekadar unsur surealis atau humor, melainkan simbol dari beban kebohongan yang perlahan menggerogoti diri manusia.

Sutradara Kebohongan Di Atas Atap, Bayu Dharmawan Saleh, menjelaskan bahwa lakon ini menyoroti kesulitan manusia untuk bersikap jujur terhadap dirinya sendiri.

“Lakon ‘Kebohongan Di Atas Atap’ adalah tentang betapa sulitnya manusia jujur pada dirinya sendiri di tengah tumpukan kebohongan yang ia bangun sepanjang hidup. Pertumbuhan hidung Pinokio di sini bukan sekadar metafora jenaka, melainkan simbol visual atas beban kebohongan yang menggerogoti jiwa,” ujar Bayu Dharmawan Saleh.

Melalui pendekatan tersebut, penonton diajak merenungkan hubungan antara kejujuran, kepentingan pribadi, dan konsekuensi moral dari pilihan-pilihan yang diambil manusia. Kisah Gamal menjadi gambaran tentang bagaimana seseorang pada akhirnya harus berhadapan dengan kebenaran yang selama ini berusaha dihindarinya.

‘Srikandi’: Pertarungan Melawan Hoaks dan Kebohongan Publik

Berbeda dari lakon pertama, Srikandi membawa penonton ke dalam dunia pewayangan dengan mengangkat sosok Dewi Srikandi yang berjuang bersama Semar dan anak-anaknya, Gareng, Petruk, serta Bagong. Mereka menghadapi musuh-musuh tak kasat mata di tengah hutan belantara menjelang Perang Baratayudha.

Meski berakar pada kisah pewayangan, lakon ini menyampaikan persoalan yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini. Musuh yang tidak terlihat menjadi representasi dari hoaks, propaganda, dan kebohongan publik yang terus berulang sepanjang sejarah. Dalam situasi tersebut, akal budi dan hati nurani menjadi kekuatan penting untuk mengenali serta menghadapi berbagai bentuk kepalsuan.

Nino Bukir, sutradara Srikandi, menjelaskan bahwa pementasan ini menggabungkan pertarungan batin dengan pendekatan multimedia untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.

“Dalam ‘Srikandi’, musuh tak nampak yang dilawan Srikandi dan Semar adalah representasi dari hoaks, propaganda, dan kebohongan publik yang terus berulang sepanjang sejarah. Lewat pementasan ini, kami mengemas pertarungan jiwa dan multimedia untuk menunjukkan bahwa perjuangan melawan kepalsuan adalah pertempuran abadi yang harus dijalani dengan kesadaran penuh,” ungkap Nino Bukir.

Melalui perpaduan unsur tradisi, refleksi sosial, dan eksplorasi multimedia, Srikandi berupaya menghadirkan kembali relevansi nilai-nilai pewayangan dalam menghadapi tantangan zaman. Lakon ini sekaligus mengingatkan bahwa perjuangan melawan kebohongan bukan hanya persoalan masa lalu, melainkan tanggung jawab yang terus melekat dalam kehidupan manusia.

Ruang Eksplorasi dan Regenerasi Kreator Teater Koma

Bagi Teater Koma, kehadiran Koma Sejenak bukan sekadar penambahan program pertunjukan, tetapi juga bagian dari upaya memperluas ruang eksplorasi artistik dan mendorong regenerasi di lingkungan kelompok teater tersebut.

Produser Teater Koma, Ratna Riantiarno, menegaskan bahwa program ini merupakan langkah lanjutan dalam perjalanan kreatif Teater Koma setelah puluhan tahun dikenal melalui produksi-produksi berskala besar.

“Koma Sejenak adalah langkah penting berikutnya dalam perjalanan kreatif Teater Koma yang tidak pernah usai. Setelah puluhan tahun memproduksi pementasan-pementasan berskala besar, program ini menjadi sarana bagi kami untuk bereksplorasi dengan format yang lebih padat. Ini adalah momentum bagi regenerasi sutradara dan kreator di Teater Koma untuk mengeksplorasi potensi mereka dalam berkarya,” ujar Ratna Riantiarno.

Melalui format yang lebih padat, Koma Sejenak memberikan kesempatan untuk mengembangkan pendekatan artistik yang berbeda tanpa meninggalkan karakter Teater Koma yang lekat dengan kritik sosial dan refleksi terhadap kehidupan manusia. Keterlibatan dua sutradara dengan perspektif masing-masing juga membuka ruang bagi lahirnya interpretasi baru terhadap naskah-naskah N. Riantiarno.

Kehadiran program ini sekaligus menjadi upaya untuk menjaga relevansi karya-karya sang pendiri Teater Koma, dengan menghadirkannya kembali di hadapan penonton melalui bahasa panggung yang terus berkembang.

Jadwal Pertunjukan dan Informasi Tiket ‘Koma Sejenak’

Pementasan Koma Sejenak yang menampilkan Kebohongan Di Atas Atap dan Srikandi akan berlangsung selama tiga kali pertunjukan pada 22–23 Oktober 2026 di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Berikut jadwal pertunjukannya:

  • Pentas 1: Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 19.30 WIB.
  • Pentas 2: Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 14.30 WIB.
  • Pentas 3: Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 19.30 WIB.

Harga tiket untuk pertunjukan siang pada Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 14.30 WIB tersedia dalam empat kategori, yaitu Rp529.000, Rp399.000, Rp229.000, dan Rp129.000.

Sementara itu, tiket pertunjukan malam pada Kamis, 22 Oktober 2026, dan Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 19.30 WIB ditawarkan dengan harga Rp629.000, Rp499.000, Rp329.000, dan Rp199.000.

Informasi tiket lebih lanjut dapat diperoleh melalui nomor 0821 22 7777 09. Penonton juga dapat mengakses situs resmi Teater Koma di www.teaterkoma.org serta platform penjualan tiket www.loket.com.

Melalui Koma Sejenak, Teater Koma mengajak penonton menikmati dua karya dengan pendekatan artistik berbeda dalam satu rangkaian pementasan. Lebih dari sekadar hiburan, kedua lakon ini menawarkan ruang refleksi tentang kejujuran, manipulasi, dan perjuangan melawan kepalsuan—persoalan yang tetap relevan dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.