
LewatLensa.com – Warisan musik Teresa Teng akan kembali dihidupkan dalam sebuah pertunjukan spesial bertajuk “A Tribute to Teresa Teng” yang akan berlangsung pada 28 Oktober 2026 di The Ballroom at Plaza Senayan, Jakarta.

Konser ini menghadirkan Flora Liu from Shanghai sebagai penampil utama, dengan special performance dari diva Indonesia Kris Dayanti dan penyanyi Putri Ayu. Pertunjukan tersebut juga akan diperkuat oleh 50 Piece Orchestra by Astrid Lea di bawah arahan RM Condro sebagai conductor.
Konser ini dirancang tidak sekadar sebagai pertunjukan nostalgia, tetapi sebagai upaya untuk memperkenalkan kembali karya-karya Teresa Teng melalui perspektif musikal yang lebih segar. Format ballroom yang lebih intim juga dipilih untuk memberikan pengalaman yang dekat antara penampil dan penonton, sekaligus menonjolkan kualitas vokal dan aransemen orkestra.
Flora Liu Membawa Interpretasi Baru atas Lagu Teresa Teng
Kehadiran Flora Liu dari Shanghai menjadi salah satu daya tarik utama “A Tribute to Teresa Teng”. Ia akan membawakan sejumlah karya yang telah melekat dengan nama besar Teresa Teng, namun tidak ditempatkan sebagai sosok yang harus menggantikan atau menirukan sang legenda.
Flora Liu justru akan menghadirkan interpretasinya sendiri terhadap karya-karya tersebut melalui karakter vokal dan perspektif musikal yang dimilikinya. Kehadirannya sekaligus membawa dimensi lintas budaya dalam pertunjukan yang mempertemukan warisan musik Teresa Teng dengan talenta dan musisi Indonesia.
Konsep tersebut menjadi relevan mengingat Teresa Teng merupakan salah satu figur penting dalam sejarah musik populer Asia. Sepanjang kariernya, ia dikenal mampu bernyanyi dalam beberapa bahasa, termasuk Mandarin, Kanton, Jepang, dan Indonesia. Musiknya pun melampaui batas geografis dan bahasa, membuat namanya tetap dikenal di berbagai negara Asia hingga beberapa dekade setelah kepergiannya pada 1995.
Kedekatan Teresa Teng dengan Indonesia juga menjadi bagian menarik dari perjalanan musiknya. Ia bahkan memiliki rekaman lagu-lagu berbahasa Indonesia. Salah satu dokumentasi yang tersedia mencatat album 18 Special Indonesia Songs yang memuat 18 lagu berbahasa Indonesia seperti “Tiada Lagi”, “Impian”, “Sekuntum Mawar Merah”, “Bunga Matahari”, hingga “Hanya Untukmu”.
“Tian Mi Mi” dan Jejak Musik Indonesia
Salah satu hubungan paling menarik antara Teresa Teng dan Indonesia terdapat pada lagu “Tian Mi Mi” (甜蜜蜜). Lagu yang sangat populer tersebut menggunakan melodi yang diadaptasi dari lagu Indonesia “Dayung Sampan”, sebuah lagu yang berkembang dalam tradisi musik Indonesia dan kerap dikaitkan dengan budaya Betawi, Melayu, serta Peranakan.
Teresa Teng sebelumnya juga merekam “Dayung Sampan” dalam versi Indonesia. Kemudian, pada 1979, versi Mandarin “Tian Mi Mi” dirilis dengan lirik Mandarin karya Zhuang Nu. Dengan demikian, perjalanan lagu tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah melodi dari Indonesia dapat mengalami transformasi menjadi karya pop Mandarin yang kemudian dikenal luas di Asia.
Fakta tersebut memperlihatkan bahwa hubungan Teresa Teng dengan Indonesia tidak berhenti pada popularitas lagu-lagunya di kalangan masyarakat Indonesia. Ada pula pertukaran musikal yang menunjukkan bagaimana musik dapat bergerak melintasi bahasa, negara, dan kebudayaan.
Hal inilah yang turut menjadi perhatian Kris Dayanti ketika dirinya dipercaya menjadi salah satu penampil dalam konser mendatang.
“Ini satu hal yang membanggakan bagi saya. Karena bisa mempelajari hal-hal baru dari seorang diva pop Mandarin Asia, Teresa Teng. Apalagi ada lagu yang disadur dari lagu asal Semarang yang dibawakan oleh Teresa Teng. Bangga sekali,” jelas Kris Dayanti dalam konferensi pers di The Music Lounge Plaza Senayan, Jakarta, 7 Oktober 2026.
Kris Dayanti dan Putri Ayu Hadir sebagai Special Performance
Kehadiran Kris Dayanti menjadi salah satu pertemuan menarik dalam konser ini. Sebagai salah satu diva musik Indonesia, Kris Dayanti akan memberikan penampilan khusus dalam pertunjukan yang diperkirakan berlangsung sekitar 1,5 jam tersebut.
Selain Kris Dayanti, Putri Ayu juga akan tampil sebagai special performer. Bagi Putri Ayu, kesempatan tersebut memiliki kedekatan personal karena lagu-lagu Mandarin Teresa Teng merupakan bagian dari proses awal dirinya mempelajari bahasa dan musik Mandarin.
“Selama 13 tahun terakhir ini, aku sering menampilkan lagu-lagu Mandarin. Salah satu lagu Mandarin yang kupelajari saat awal-awal belajar Mandarin adalah lagu-lagunya Teresa Teng. Bisa dibilang lagu-lagu Teresa Teng ini sangat bermakna bagiku. Jadi, saat ditawari tampil di konser ini, aku langsung setuju,” ungkap Putri Ayu.
Kehadiran keduanya diharapkan memberikan warna berbeda dalam keseluruhan pertunjukan, sekaligus memperlihatkan bagaimana karya Teresa Teng dapat diterima dan diapresiasi oleh penyanyi dari generasi serta latar musikal yang berbeda.
50 Piece Orchestra Siapkan Dimensi Musikal yang Lebih Megah
Selain para penyanyi, kekuatan utama “A Tribute to Teresa Teng” terletak pada format 50 Piece Orchestra by Astrid Lea yang akan dipimpin oleh RM Condro.
Penggunaan orkestra dalam konser ini bukan sekadar untuk memperbesar skala pertunjukan. Aransemen disiapkan untuk memberikan dimensi baru terhadap lagu-lagu Teresa Teng dengan tetap mempertahankan karakter dan emosi yang melekat pada karya aslinya.
Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara kekuatan 50 instrumen dengan karakter vokal yang menjadi pusat dari lagu-lagu Teresa Teng. Dengan pendekatan tersebut, lagu-lagu yang sudah dikenal lintas generasi akan mendapatkan ruang musikal yang lebih luas melalui dinamika, harmoni, dan orkestrasi.
Astrid Lea mengatakan, kehadiran orkestra di venue yang megah seperti The Ballroom at Plaza Senayan diharapkan dapat memberikan pengalaman berbeda bagi penonton yang ingin bernostalgia dengan lagu-lagu Teresa Teng.
“Didukung dengan The Ballroom at Plaza Senayan yang merupakan venue yang megah, kehadiran 50 Piece Orchestra dalam konser ini, akan memberikan experience baru bagi para penonton nantinya dalam mendengarkan lagu-lagu Teresa Teng untuk bernostalgia. Terlebih lagi, orang tua saya juga menyukai lagu-lagu Teresa Teng. Senang banget bisa ikut dalam konser ini,” ujar Astrid Lea.
Sementara itu, posisi RM Condro sebagai conductor akan menjadi bagian penting dalam menerjemahkan konsep musikal tersebut ke dalam pertunjukan secara utuh.
The Ballroom at Plaza Senayan Dipilih untuk Suasana Intimate
Pemilihan The Ballroom at Plaza Senayan juga bukan tanpa alasan. Berbeda dengan konser arena atau stadion yang mengutamakan kapasitas besar, format ballroom memungkinkan pertunjukan dibangun dengan atmosfer yang lebih dekat, personal, dan elegan.
Karakter tersebut dinilai sesuai dengan konsep “A Tribute to Teresa Teng” yang mengedepankan kualitas vokal, permainan orkestra, serta hubungan emosional antara penampil dan penonton.
Andrea Kurniawan, CEO The Ballroom at Plaza Senayan, mengatakan pihaknya ingin menjadikan venue sebagai bagian dari pengalaman konser.
“Kami ingin A Tribute to Teresa Teng menjadi lebih dari sekadar konser. Kami ingin menciptakan sebuah experience yang elegan dan intimate, di mana penonton dapat benar-benar menikmati vokal, orchestra, dan atmosfer pertunjukan secara lebih dekat. The Ballroom at Plaza Senayan memiliki karakter venue yang menurut kami sangat sesuai dengan konsep ini. Kami ingin venue menjadi bagian dari pengalaman konser itu sendiri.”
Menurut Andrea, karya Teresa Teng memiliki kekuatan musikal dan emosional yang mampu melintasi batas generasi maupun negara. Karena itu, konser ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang nostalgia bagi penggemar lama, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi generasi baru untuk mengenal karya sang legenda.
“Kami melihat bahwa karya Teresa Teng memiliki nilai musikal dan emosional yang sangat kuat serta mampu melintasi batas generasi dan negara. Lagu-lagu beliau tidak hanya menjadi bagian dari sejarah musik Asia, tetapi sampai saat ini masih sangat dikenal dan dicintai oleh masyarakat Indonesia,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa format orkestra dipilih untuk memberikan interpretasi yang lebih luas terhadap karya Teresa Teng sehingga menghasilkan pertunjukan yang megah sekaligus emosional.
Mempertemukan Warisan Musik Asia dengan Talenta Indonesia
Dari sisi promotor, konser ini juga dipandang sebagai kesempatan untuk mempertemukan warisan musik Asia dengan talenta Indonesia.
David Ananda, Managing Director Color Asia Live, menyebut “A Tribute to Teresa Teng” memiliki nilai musikal sekaligus budaya karena Teresa Teng merupakan figur yang pengaruhnya telah melampaui batas negara.
“Konser A Tribute to Teresa Teng memiliki nilai musikal dan budaya yang sangat menarik. Teresa Teng memiliki pengaruh yang sangat besar dalam sejarah musik Asia. Karena itu, kami merasa tribute seperti ini harus dipresentasikan dengan standar pertunjukan yang baik,” ujar David.
Ia menilai kehadiran Flora Liu dari Shanghai bersama Kris Dayanti dan Putri Ayu menciptakan kombinasi yang menarik, terlebih dengan dukungan 50 Piece Orchestra by Astrid Lea dan RM Condro sebagai conductor.
“Kami berharap konser ini dapat menghadirkan pengalaman yang bukan hanya nostalgik, tetapi juga fresh bagi penonton,” tambahnya.
Tiket Mulai Dijual 7 Oktober 2026
“A Tribute to Teresa Teng” akan digelar pada Rabu, 28 Oktober 2026, di The Ballroom at Plaza Senayan, Jakarta. Pertunjukan dijadwalkan berlangsung sekitar 1,5 jam dengan menghadirkan Flora Liu, Kris Dayanti, Putri Ayu, serta 50 Piece Orchestra by Astrid Lea di bawah arahan RM Condro.
Tiket mulai dijual pada 7 Oktober 2026 melalui aplikasi dan website LOKET.COM.

Adapun kategori dan harga tiket yang tersedia adalah:
Platinum – Number Seating : Rp2.000.000
Gold – Number Seating : Rp1.500.000
Silver – Number Seating : Rp1.000.0
Harga tiket tersebut sudah termasuk pajak, tetapi belum termasuk biaya administrasi.
Pada akhirnya, “A Tribute to Teresa Teng” menawarkan lebih dari sekadar pertunjukan ulang lagu-lagu klasik. Konser ini menjadi ruang untuk melihat kembali bagaimana musik Teresa Teng terus bergerak di antara berbagai budaya, termasuk Indonesia.
Bagi generasi yang tumbuh bersama lagu-lagu Teresa Teng, pertunjukan ini dapat menjadi ruang nostalgia. Sementara bagi generasi yang lebih muda, kehadiran Flora Liu dan format orkestra dapat menjadi cara baru untuk mengenal karya seorang penyanyi yang pengaruhnya telah menjadi bagian dari sejarah musik populer Asia.
Dengan perpaduan Flora Liu from Shanghai, Kris Dayanti, Putri Ayu, 50 Piece Orchestra by Astrid Lea, serta RM Condro, konser pada 28 Oktober mendatang diharapkan menghadirkan kembali lagu-lagu Teresa Teng dalam suasana yang intimate, sophisticated, dan elegan, sekaligus memperlihatkan bahwa karya musik yang kuat tetap dapat menemukan pendengarnya lintas generasi dan batas budaya.