
LewatLensa.com – Label musik Arunada Records resmi memperkenalkan DAYDRM, grup vokal anak yang menjadi proyek perdana label tersebut di industri musik Indonesia. Beranggotakan tujuh anak berbakat, yakni Nicole, Ghaitsa, Andin, Ardani, Dela, Sheena, dan Jovina, DAYDRM melakukan debut melalui single perdana bertajuk “SHINE!”.

DAYDRM diperkenalkan kepada publik untuk pertama kalinya pada Jumat, 2 Oktober 2026, dalam acara DAYDRM Press Conference Showcase “SHINE!” yang berlangsung di Theater Purwa Caraka Music Studio (PCMS), BSD, Tangerang Selatan.
Mengusung warna musik pop dance yang energik, ceria, dan mudah diterima pendengar muda, “SHINE!” membawa pesan mengenai semangat, keberanian, optimisme, serta pentingnya terus bangkit ketika menghadapi kegagalan.
Melalui lirik yang sederhana tetapi sarat motivasi, DAYDRM mengajak anak-anak untuk tidak takut mencoba dan terus mengejar cita-cita. Salah satu bagian liriknya berbunyi, “Kalau jatuh bangun lagi, smile lagi gak usah sedih”, yang menjadi pengingat bahwa kegagalan bukanlah akhir perjalanan, melainkan kesempatan untuk kembali berdiri dan melangkah.
Semangat tersebut semakin terasa melalui bagian chorus, “Shine! Shine! Everybody shine, mengejar mimpi terbang tinggi.” Pesan ini sekaligus menjadi identitas awal DAYDRM sebagai grup vokal anak yang ingin menghadirkan karya positif dan relevan bagi generasi muda.
Proyek Perdana Arunada Records
Tanggal 2 Oktober 2026 menjadi momentum penting bukan hanya bagi DAYDRM, tetapi juga bagi Arunada Records. Grup tersebut merupakan proyek pertama dari Arunada Kreasi Indonesia atau Arunada Records, yang lahir dari lingkungan Purwa Caraka Music Studio.
Chief Operating Officer Purwa Caraka Music Studio, Aditya Purwa Putra, menjelaskan bahwa kehadiran Arunada Records berangkat dari keinginan untuk membangun ekosistem yang dapat memberikan ruang lebih luas bagi siswa PCMS yang memiliki ketertarikan dan keseriusan di bidang musik.
Menurut Aditya, PCMS saat ini memiliki jaringan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Memasuki usia 38 tahun, PCMS telah memiliki 98 lokasi dengan jumlah sekitar 30.400 siswa.
“Dari sekian banyak anak atau siswa yang ada di dalam Purwa Caraka Music Studio, kita ingin membangun sebuah ekosistem di mana anak-anak ini bisa kita bantu salurkan. Kalau ke depannya serius ke musik, bagaimana? Maka tahun ini lahirlah Arunada Kreasi Indonesia atau Arunada Records,” ujar Aditya.
Ia menambahkan, Arunada Records diharapkan dapat menjadi salah satu wadah bagi anak-anak, khususnya siswa PCMS, untuk mengembangkan kemampuan mereka sekaligus mendapatkan pengalaman yang lebih dekat dengan industri musik profesional.
Berawal dari Audisi Ratusan Peserta
Kelahiran DAYDRM sendiri melewati proses seleksi dan pembinaan yang cukup panjang. Proses tersebut diawali melalui audisi online yang diikuti ratusan peserta.
Dari proses tersebut, sebanyak 30 peserta kemudian dipilih untuk mengikuti audisi secara langsung di Purwa Caraka Music Studio. Awalnya, PCMS menargetkan lima anak untuk menjadi bagian dari proyek tersebut. Namun, setelah melihat potensi para peserta, akhirnya terpilih tujuh anak untuk membentuk DAYDRM.
Ketujuh member tersebut kemudian mendapatkan berbagai pembinaan, mulai dari workshop, pelatihan vokal, koreografi, hingga workshop lagu. Proses tersebut dilanjutkan dengan latihan, rekaman, dan produksi video musik sebelum akhirnya DAYDRM diperkenalkan secara resmi kepada publik.
“Kita bina, kita kasih workshop, kita kasih bimbingan vokal, bimbingan koreografi, lalu bikin workshop lagu. Setelah melalui proses latihan, rekaman, shooting dan hari ini, Jumat 2 Oktober 2026, diperkenalkan tujuh anak-anak personel DAYDRM,” kata Aditya.
Para member DAYDRM sendiri rata-rata berusia sekitar 10 tahun. Meski masih berada di usia sekolah, mereka telah mendapatkan kesempatan untuk merasakan proses produksi musik secara lebih menyeluruh.
Bagi PCMS, pengalaman tersebut tidak hanya diarahkan untuk membentuk sebuah grup vokal, tetapi juga menjadi proses pembelajaran bagi anak-anak mengenai kedisiplinan, kerja sama, performa, serta bagaimana mengembangkan potensi yang mereka miliki.
Menghidupkan Kembali Ruang untuk Lagu Anak
Pemilihan format girl group sebagai proyek pertama Arunada Records bukan tanpa alasan. Aditya mengatakan, proyek tersebut merupakan perpaduan antara idealisme PCMS sebagai sekolah musik dan keinginan untuk menghadirkan kembali lagu anak-anak dengan kemasan yang lebih dekat dengan perkembangan musik populer.
Salah satu perhatian yang melatarbelakangi proyek tersebut adalah terbatasnya lagu anak-anak yang secara khusus diproduksi dan mendapatkan ruang di industri musik saat ini.
“Ini merupakan setengah idealisme sekolah musik. PCMS ingin memperkenalkan, dan saat ini terdapat isu bahwa lagu anak-anak sedikit. Kita ingin masuk ke situ, tetapi kemasannya cukup populer dan yang paling penting kualitas vokalnya harus bagus,” ujar Aditya.
Karena itu, “SHINE!” tidak dikemas sebagai lagu anak-anak dengan pendekatan musik yang konvensional. Aransemen pop dance yang enerjik dipilih agar karya tersebut dapat dinikmati oleh anak-anak sekaligus tetap memiliki daya tarik bagi pendengar yang lebih luas.
Pendekatan tersebut juga memperlihatkan upaya untuk mempertemukan dunia pendidikan musik dengan kebutuhan industri hiburan, tanpa meninggalkan karakter dan usia para personelnya.
Purwa Caraka: Anak Berbakat Perlu Mendapat Ruang
Founder sekaligus Direktur Utama Purwa Caraka Music Studio, Purwa Caraka, mengatakan bahwa lahirnya DAYDRM merupakan bagian dari visi yang lebih besar untuk mengembangkan ekosistem musik di lingkungan PCMS.
Selama hampir empat dekade, PCMS telah menjadi ruang pendidikan musik bagi anak-anak dan generasi muda. Namun, menurut Purwa Caraka, proses pendidikan tersebut perlu dilanjutkan dengan menyediakan ruang bagi mereka yang memiliki bakat dan ingin mengembangkan diri ke jenjang yang lebih profesional.
“Sebuah visi bagaimana memaksimalkan bakat anak-anak itu menjadi sesuatu yang… di industri ini sekarang lagu anak-anak agak susah, tetapi anak-anak juga berhak mempunyai tempat yang bagus, dibikinin musik yang bagus di tengah-tengah industri musik yang hingar-bingar ini,” tutur Purwa Caraka.
Ia menilai, keberanian untuk secara serius memproduksi musik anak masih belum banyak ditemukan. Padahal, anak-anak memiliki hak untuk memperoleh karya musik yang sesuai dengan dunia mereka, baik dari sisi pesan maupun kualitas produksinya.
Purwa Caraka juga melihat komposisi peserta didik PCMS sebagai peluang untuk menjalankan visi tersebut. Sekitar 70 persen peserta didik PCMS merupakan anak-anak usia sekolah.
“Dengan semangat 70 persen peserta didik PCMS adalah anak-anak usia sekolah, ini suatu kesempatan yang bagus. Kita berani melangkah dan kita percaya kalau kita melakukan sesuatu secara sungguh-sungguh, mungkin tidak langsung harus instan, tetapi memang kita harus berusaha dengan baik,” tambahnya.
DAYDRM Jadi Contoh Pengembangan Talenta
Bagi Purwa Caraka, DAYDRM menjadi salah satu contoh bagaimana talenta yang ditemukan melalui pendidikan musik dapat diberikan kesempatan untuk berkembang lebih jauh.
Ia mengatakan, PCMS selama ini telah banyak menemukan anak-anak berbakat dan membantu mereka melanjutkan proses pengembangan ke jenjang berikutnya. Kehadiran DAYDRM menjadi salah satu bentuk konkret dari upaya tersebut.
“Kita dengan anak-anak berbakat sudah biasa. Anak-anak berbakat yang kita lanjutkan ke jenjang lain, DAYDRM sebagai contohnya. Dan setelah ini masih ada dua project lagi yang dipersiapkan oleh PCMS,” kata Purwa Caraka.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa DAYDRM tidak dirancang sebagai proyek yang berdiri sendiri. Kehadirannya merupakan bagian dari langkah PCMS untuk membangun ekosistem yang lebih lengkap, mulai dari pendidikan, pengembangan talenta, produksi karya hingga membuka pengalaman bagi anak-anak untuk mengenal dunia industri musik.
Showcase Perdana DAYDRM
Dalam acara DAYDRM Press Conference Showcase “SHINE!”, publik dan media tidak hanya diperkenalkan kepada ketujuh personel DAYDRM.
Acara tersebut juga menjadi panggung perdana bagi DAYDRM untuk menunjukkan kemampuan mereka secara langsung. Setelah sesi perkenalan, acara dilanjutkan dengan pemutaran Official Music Video “SHINE!” serta penampilan langsung DAYDRM.
Ketujuh member membawakan single debut mereka sekaligus menghadirkan dua lagu cover. Penampilan tersebut menjadi bagian penting dari proses perkenalan DAYDRM sebagai grup vokal yang tidak hanya mengandalkan produksi rekaman, tetapi juga memiliki kemampuan tampil secara langsung.
Dengan usia para member yang rata-rata masih sekitar 10 tahun, kehadiran DAYDRM sekaligus memperlihatkan bagaimana proses pembinaan vokal dan performa dilakukan sejak usia dini dengan pendekatan yang terarah.
“SHINE!” dan Harapan untuk Generasi Muda
Lebih dari sekadar single debut, “SHINE!” membawa pesan yang ingin terus dikembangkan DAYDRM dalam perjalanan mereka.
Melalui tema tentang keberanian bangkit, menjaga semangat dan mengejar mimpi, lagu ini menempatkan anak-anak sebagai sosok yang memiliki cita-cita dan ruang untuk berkembang.
Pesan “Kalau jatuh bangun lagi, smile lagi gak usah sedih” menjadi salah satu gambaran bagaimana DAYDRM ingin menyampaikan motivasi dengan bahasa yang dekat dengan keseharian anak-anak.
Sementara itu, ajakan “Shine! Shine! Everybody shine, mengejar mimpi terbang tinggi” menjadi semacam seruan utama dari single tersebut: setiap anak memiliki kesempatan untuk bersinar dengan caranya masing-masing.
Kehadiran DAYDRM dan “SHINE!” pada akhirnya tidak hanya menandai debut sebuah grup vokal baru, tetapi juga menjadi langkah awal Arunada Records dalam menjalankan visi membangun ekosistem musik yang memberi ruang bagi talenta-talenta muda.
Di tengah perkembangan industri musik yang semakin beragam, PCMS mencoba mengambil posisi dengan menghadirkan kembali karya yang secara khusus berbicara kepada anak-anak. DAYDRM menjadi salah satu bentuk awal dari visi tersebut—mempertemukan pendidikan musik, pengembangan bakat dan produksi karya dalam satu ekosistem.
Dengan tujuh member sebagai generasi pertama, DAYDRM kini memulai perjalanan mereka dari sebuah lagu sederhana tentang keberanian untuk bangkit dan mengejar mimpi. Sebuah pesan yang diharapkan tidak berhenti di panggung maupun layar, tetapi juga tumbuh bersama anak-anak yang mendengarkan dan menyanyikannya.