KING LEAR DI JAKARTA; Menerima Masa Lalu dalam Kesunyian Hari Ini

King Lear directed by Tadashi Suzuki ~ Actors from 8 countries. Courtesy of Suzuki Company of Toga. 2026

LewatLensa.com – Seorang raja tua memutuskan turun dari takhta. Kerajaannya dibagikan kepada anak-anaknya. Ia membayangkan hari tua yang tenang, dihormati oleh keluarga yang telah menerima seluruh warisannya. Namun segera setelah mahkota berpindah tangan, penghormatan ikut menghilang. Yang tersisa adalah seorang manusia tua yang perlahan kehilangan segalanya.

Pada 16–17 September 2026, tragedi King Lear karya William Shakespeare dalam penyutradaraan Tadashi Suzuki akan dipentaskan untuk pertama kalinya di Jakarta, bertempat di Gedung Kesenian Jakarta. Pertunjukan ini diproduksi oleh Suzuki Company of Toga (SCOT) dan Bumi Purnati Indonesia, bersama The Japan Foundation, sebagai bagian dari program Partnership to Co-create a Future with the Next Generation: WA Project 2.0 yang diimplementasikan oleh The Japan Foundation selama 10 tahun dengan melakukan pertukaran antarmasyarakat (people-to-people exchange) di wilayah Asia Tenggara dan Jepang.

King Lear merupakan salah satu karya penting dalam perjalanan artistik Tadashi Suzuki dan SCOT sejak pertama kali diciptakan pada 1984. Di tangan Suzuki, tragedi Shakespeare ini tidak semata menjadi cerita tentang seorang raja yang salah membagi kerajaan. Ia berubah menjadi kisah tentang seorang manusia yang kehilangan kuasa atas dunia yang selama ini diyakininya dapat ia kendalikan.

Dunia sebagai Rumah Sakit

Salah satu kekuatan konseptual King Lear versi Suzuki adalah pemindahan dunia kerajaan ke sebuah rumah sakit atau ruang perawatan orang tua. Lear tidak semata hadir sebagai seorang raja, tetapi sebagai lelaki tua yang hidup bersama ingatan dan pikirannya sendiri. Dari ruang itu, batas antara kenyataan, ingatan, dan halusinasi menjadi kabur. Kerajaan dapat dibaca sebagai ingatan. Pengkhianatan anak-anaknya sebagai trauma. Badai menjadi kekacauan dalam tubuh dan pikirannya.

Kita tidak lagi hanya menyaksikan seorang raja menjadi gila. Kita seperti memasuki pikiran seorang manusia tua yang merasa dirinya pernah menjadi raja. Pertanyaan Shakespeare pun memperoleh konteks baru: Apa yang tersisa dari seseorang ketika kekuasaan, keluarga, penghormatan, dan dunia yang pernah mengelilinginya perlahan menghilang?

Lear menyerahkan kerajaannya kepada Goneril dan Regan setelah keduanya mengucapkan cinta dengan kata-kata yang berlebihan. Sebaliknya, Cordelia, putri bungsunya, menolak menjadikan cinta sebagai pertunjukan retorika. Kejujuran itu membuat Lear murka. Cordelia diusir. Sejak itulah dunia Lear mulai runtuh. Tubuh yang Kehilangan Kekuasaan

Bagi Tadashi Suzuki, tubuh aktor merupakan pusat energi pertunjukan.

Melalui Suzuki Method of Actor Training, aktor membangun hubungan yang kuat antara kaki, pusat gravitasi, pernapasan, suara, konsentrasi, dan ruang. Dari sana lahir kekuatan khas panggung Suzuki: tubuh yang kokoh tetapi mampu diam sangat lama; energi yang besar tetapi dikendalikan; suara yang muncul dari pusat tubuh dan bukan sekadar dari kata-kata. Karena itu perjalanan Lear juga dapat dibaca sebagai perjalanan kehancuran sebuah tubuh.

Pada awalnya ia adalah pusat dunia Kata-katanya adalah perintah. Tubuhnya memiliki otoritas. Kemudian ia kehilangan takhta. Kehilangan pengikut. Kehilangan rumah. Kehilangan anak-anaknya. Kehilangan kemampuan memahami kenyataan.

Sampai akhirnya tidak ada lagi “Raja Lear”. Yang tinggal hanya seorang manusia tua. Di sinilah Shakespeare bertemu dengan bahasa teater Suzuki. Ketika seluruh atribut sosial dilepaskan, tubuh menjadi tempat terakhir manusia mempertahankan keberadaannya.

Cordelia dan Tragedi yang Terlambat

Puncak tragedi King Lear bukan hanya badai ataupun saat Goneril dan Regan menolak ayahnya. Tetapi puncaknya adalah Cordelia. Lear pernah menghukum satu-satunya anak yang tidak bersedia mempertontonkan cintanya melalui kata-kata. Ia percaya kepada dua anak yang pandai merayu, sementara kejujuran Cordelia justru dibalas dengan pengusiran.

Seluruh perjalanan Lear kemudian seperti perjalanan panjang untuk memahami kesalahan itu. Namun ketika ia akhirnya menyadari siapa yang sungguh-sungguh mencintainya, waktu telah habis. Pada bagian akhir tragedi, yang kita lihat bukan lagi seorang raja yang kehilangan kerajaan. Kita melihat seorang ayah tua berhadapan dengan tubuh anak perempuan yang dicintainya, tetapi telah mati.

Tidak ada kerajaan yang dapat ditawarkan kembali. Tidak ada keputusan yang dapat dicabut. Tidak ada kekuasaan yang mampu menghidupkan Cordelia. Lear akhirnya dapat mencintai Cordelia tanpa meminta apa pun darinya—justru ketika Cordelia tidak lagi dapat menerima cinta tersebut.

Dalam bahasa panggung Suzuki, tragedi ini tidak membutuhkan melodrama. Kesedihan justru ditahan. Tubuh diam. Ruang besar. Gerak sedikit. Suara muncul dari tubuh yang hampir tidak mampu lagi menanggung penderitaannya. Semakin sedikit tubuh bergerak,semakin besar kekosongan yang terasa. Ketika seluruh bayangan kerajaan itu berakhir, yang kembali kita temukan adalah seorang manusia tua dalam kesunyian.

Suzuki tidak sedang sekadar menceritakan bagaimana seorang raja kehilangan kerajaannya. Ia memperlihatkan bagaimana seorang manusia, setelah kehilangan segala sesuatu yang membuatnya merasa berkuasa, akhirnya harus berhadapan dengan dirinya sendiri. Tragedi terbesarnya bukan kehilangan takhta, melainkan terlambat mengetahui siapa yang sungguh-sungguh mencintainya.

Lear dari Indonesia

Produksi King Lear kali ini juga menandai babak penting dalam perjalanan kolaborasi Suzuki Company of Toga (SCOT) dan seniman Indonesia. Tokoh King Lear dimainkan oleh Jamaluddin Latif, aktor Indonesia yang selama bertahun-tahun mendalami Metode Suzuki untuk Pelatihan Aktor serta terlibat dalam berbagai proses latihan dan produksi bersama SCOT dan Bumi Purnati Indonesia.

Peran Lear sebelumnya selama bertahun-tahun dimainkan oleh aktor Jerman Goetz Argus. Setelah wafatnya Goetz Argus, peran tersebut kini diteruskan kepada generasi berikutnya.

Pilihan terhadap aktor Indonesia bukan sekadar pergantian pemeran. Ia memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dan metode teater dapat diwariskan melampaui batas negara, bahasa, dan kebudayaan. Produksi Jakarta ini juga mempertemukan aktor dari berbagai latar kebangsaan, termasuk Indonesia, Jepang, Italia, Amerika Serikat, Rusia, Korea Selatan, Cina, dan Chile.

Bahasa mereka berbeda. Latar budayanya berbeda. Namun di atas panggung, mereka bertemu melalui tubuh. Melalui bunyi, kostum dan gerakan yang presisi. Nuansa keagungan dan penderitaan di baliknya menjadi tone dasar pertunjukan ini.

Perjalanan Desa Toga–Indonesia

Pertunjukan King Lear merupakan kelanjutan dari hubungan panjang antara Suzuki Company of Toga, Bumi Purnati Indonesia, dan The Japan Foundation yang berlangsung sejak 2015.

The Japan Foundation berharap kegiatan ini dapat memperdalam saling pengertian antara Indonesia dan Jepang khususnya, sekaligus mengembangkan sumber daya manusia yang mampu memperkuat pertukaran budaya antarnegara di masa depan.

Kolaborasi tersebut berkembang melalui pelatihan, residensi, dan produksi bersama. Salah satu hasil pentingnya adalah Dionysus, yang melibatkan aktor Indonesia, Jepang, dan Cina. Kemudian dipentaskan di berbagai panggung dan festival internasional, diantaranya Singapore International Festival of Arts (SIFA) 2019, dan Theatre Olympics ke-9 tahun 2019. Para aktor menampilkan kekayaan bahasa daerah dan latar budaya masing-masing sehingga karya ini mendapatkan apresiasi yang tinggi sebagai model baru produksi teater kolaboratif lintas negara.

Para aktor Indonesia yang dipilih oleh Restu Kusumaningrum, Direktur Artistik dan Independen Produser Bumi Purnati Indonesia, secara berkelanjutan juga mengikuti SCOT Summer Season di Toga, Jepang, serta pelatihan Suzuki Method of Actor Training. Melalui program tersebut, para aktor berkesempatan berkreasi dan berkolaborasi bersama para aktor Jepang sehingga melahirkan hubungan yang erat dalam dunia seni pertunjukan antar dua negara.

Perjalanan itu dilanjutkan melalui Electra. Pada 2021, di tengah pandemi Covid-19, sejumlah aktor Indonesia tinggal dan berlatih di Desa Toga, Prefektur Toyama, Jepang, sebelum memainkan Electra bersama aktor SCOT di hari pertama turun salju tahun 2022.

Kolaborasi kembali berlanjut pada 2023 dengan mementaskan kembali karya Dionysus di Gedung Kesenian Jakarta.

Kini, melalui King Lear, perjalanan panjang tersebut tiba di Jakarta. Pertunjukan ini karena itu bukan sekadar membawa sebuah produksi Jepang ke Indonesia. Ia merupakan hasil dari proses pertukaran, latihan, dan kerja bersama yang dibangun selama lebih dari satu dekade. Dan melalui King Lear, kisah yang ditulis Shakespeare lebih dari empat abad lalu kembali berbicara kepada kehidupan hari ini: tentang kekuasaan yang tidak abadi, keluarga, usia tua, kehilangan, kesendirian, dan penyesalan. Tentang seorang manusia yang baru memahami arti cinta setelah hampir semuanya hilang.

Kali ini, tragedi itu hadir di Jakarta.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.