
LewatLensa.com – Film musikal masih menjadi salah satu genre yang memiliki ruang besar untuk berkembang di Indonesia. Tidak hanya menawarkan hiburan melalui perpaduan cerita, lagu, dan koreografi, film musikal juga dinilai mampu menjadi medium pendidikan yang membantu anak-anak mengenali potensi diri, membangun karakter, hingga mengembangkan berbagai bentuk kecerdasan.
Hal tersebut menjadi pembahasan utama dalam Diskusi Film Musikal bertemakan “Tantangan Film Musikal di Indonesia” yang digelar dalam rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 – Pekan Diskusi Film Indonesia, Senin (24/8/2026).
Bertempat di PFN Heritage, Jalan Otista Raya Nomor 125–127, Jakarta Timur, diskusi yang berlangsung pukul 15.00–17.00 WIB tersebut menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai latar belakang, yakni aktris sekaligus pendidik anak Yessy Gusman, produser eksekutif film Sahabat Anak Herty P. Purba, serta ventriloquist cilik Afsheena Zerina Sofialdin yang berbagi pengalaman pertamanya terlibat dalam produksi film musikal.
Diskusi tersebut dipandu oleh Rani Oktavia, produser sekaligus penulis televisi, yang mengajak para pembicara membahas bagaimana film musikal dapat menjadi bagian dari perkembangan industri film Indonesia sekaligus memberikan dampak positif bagi generasi muda.
Film Musikal Sebagai Ruang Menemukan Potensi Anak
Dalam diskusi tersebut, Yessy Gusman menekankan bahwa setiap anak memiliki kemampuan dan kecerdasan yang berbeda-beda. Menurutnya, keberhasilan seorang anak tidak seharusnya hanya diukur dari pencapaian akademik seperti nilai sekolah maupun peringkat kelas.
“Kita semua adalah makhluk yang istimewa. Tidak ada manusia yang diciptakan tanpa memiliki kemampuan atau kecerdasan tertentu. Jadi, anak tidak perlu merasa kurang hanya karena dia tidak mendapatkan ranking atau tidak unggul dalam pelajaran tertentu,” ujar Yessy.
Yessy kemudian mengaitkan pandangannya dengan teori multiple intelligences atau kecerdasan jamak yang diperkenalkan oleh psikolog Howard Gardner. Konsep tersebut menjelaskan bahwa kecerdasan manusia memiliki banyak bentuk, tidak hanya terbatas pada kemampuan akademik seperti matematika maupun logika.
Menurut Yessy, seorang anak dapat memiliki kecerdasan musikal, kinestetik, linguistik, interpersonal, intrapersonal, naturalis, maupun bentuk kecerdasan lainnya.
Ia memberikan contoh bagaimana seseorang yang mungkin tidak terlihat menonjol dalam bidang akademik dapat memiliki keunggulan luar biasa dalam bidang lain.
“Saya pernah melihat seorang mahasiswa di Amerika yang secara akademik terlihat biasa saja, tetapi mendapatkan beasiswa karena memiliki kemampuan luar biasa dalam olahraga basket. Dari situ semakin terlihat bahwa kecerdasan manusia tidak hanya berkaitan dengan IQ atau kemampuan akademis,” jelasnya.
Bagi Yessy, seni pertunjukan seperti film, teater, dan musik menjadi salah satu wadah yang mampu mengembangkan berbagai kecerdasan tersebut secara bersamaan.
Ketika seorang anak menghafal dialog dan menyampaikan cerita, menurutnya, kemampuan linguistik berkembang. Ketika anak bernyanyi atau memainkan alat musik, kecerdasan musikal ikut terasah. Sementara ketika anak melakukan gerakan atau koreografi, kemampuan kinestetik juga berkembang.
“Ketika seorang anak menghafal skenario dan mampu menyampaikan dialog dengan bahasa yang baik, di situ ada kecerdasan linguistik. Ketika dia menyanyi atau memainkan musik, ada kecerdasan musikal. Ketika dia bergerak dan melakukan koreografi, ada kecerdasan kinestetik,” paparnya.
Lebih dari sekadar kemampuan teknis, proses berkesenian juga mengajarkan anak mengenai kerja sama, kedisiplinan, keberanian tampil di depan publik, serta kemampuan mengekspresikan diri.
“Anak-anak bisa bermain sambil belajar, mengembangkan keberanian, sekaligus menemukan kemampuan yang mereka miliki,” tambah Yessy.
Sahabat Anak dan Upaya Menghadirkan Kembali Film Anak Indonesia
Sementara itu, produser eksekutif film Sahabat Anak, Herty P. Purba, mengungkapkan bahwa film musikal tersebut lahir dari keinginan untuk menghadirkan kembali tontonan anak Indonesia yang memiliki nilai positif sekaligus dekat dengan kehidupan keluarga.
Menurut Herty, perkembangan teknologi membuat anak-anak saat ini memiliki begitu banyak pilihan hiburan, mulai dari platform digital, media sosial, gim, animasi hingga budaya populer global.
Namun, film yang benar-benar mengangkat dunia anak dan dapat dinikmati bersama keluarga masih menjadi tantangan tersendiri bagi industri perfilman Indonesia.
“Kami ingin menghadirkan film yang tidak menggurui anak. Anak-anak diajak tertawa, bernyanyi, bermain, berimajinasi, sekaligus belajar tentang persahabatan,” ujar Herty.
Pemilihan genre musikal menjadi strategi untuk menyampaikan pesan tersebut. Musik dianggap memiliki kekuatan emosional yang mampu menyampaikan nilai tanpa terasa seperti sebuah pelajaran formal.
“Musik mampu menyampaikan emosi yang terkadang sulit diucapkan anak-anak. Anak-anak sangat dekat dengan lagu, ritme dan permainan. Jadi, musik bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai tanpa terasa seperti sedang mengajari,” jelasnya.
Namun, Herty menegaskan bahwa film musikal tidak sekadar menambahkan lagu sebagai elemen hiburan tambahan. Musik harus menjadi bagian penting yang menyatu dengan alur cerita.
“Cerita dan musik harus menjadi satu kesatuan. Setiap lagu harus memiliki fungsi dalam cerita, baik untuk memperkenalkan karakter, menyampaikan konflik, membangun emosi maupun menguatkan pesan,” katanya.
Dalam Sahabat Anak, lagu-lagu yang hadir dalam film memiliki fungsi untuk memperkuat perjalanan karakter, membangun suasana, hingga menyampaikan nilai utama mengenai persahabatan, keberanian, kasih sayang, serta hubungan antara anak dan orang tua.
Membuat Film yang Bisa Dinikmati Dua Generasi
Salah satu tantangan terbesar dalam membuat film anak, menurut Herty, adalah bagaimana menghadirkan cerita yang tidak hanya menarik bagi anak-anak, tetapi juga mampu membuat orang tua menikmati pengalaman menonton bersama.
“Film ini sebenarnya tidak hanya ditujukan untuk anak-anak. Kami ingin orang tua juga menikmati filmnya. Tantangan terbesar kami adalah bagaimana membuat film yang disukai anak, tetapi pada saat yang sama membuat orang tua merasa senang ketika mengajak anak mereka menonton,” ungkapnya.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Sahabat Anak mengangkat tema-tema universal yang dapat diterima berbagai usia.
Film ini tidak hanya berbicara tentang dunia anak, tetapi juga tentang bagaimana keluarga memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh, mencoba hal baru, dan menemukan kepercayaan dirinya.
Afsheena Zerina Bagikan Pengalaman Pertama Bermain Film Musikal
Dalam kesempatan yang sama, ventriloquist cilik Afsheena Zerina Sofialdin turut berbagi cerita mengenai pengalaman pertamanya terlibat dalam film musikal Sahabat Anak.
Bagi Afsheena, pengalaman tersebut menjadi perjalanan baru karena berbeda dengan aktivitasnya selama ini sebagai seorang ventriloquist di panggung pertunjukan.
Dalam produksi film musikal, ia harus memahami karakter, mempelajari dialog, mengikuti arahan sutradara, sekaligus menyesuaikan diri dengan kebutuhan adegan yang melibatkan musik dan koreografi.
Pengalaman tersebut menjadi contoh bagaimana anak dapat mengembangkan bakat melalui berbagai ruang kreatif. Kemampuan yang awalnya berkembang melalui pertunjukan langsung dapat diperluas melalui industri film.
Kehadiran Afsheena dalam diskusi juga memberikan gambaran nyata kepada para peserta, khususnya anak-anak dan pelajar, bahwa dunia kreatif dapat menjadi ruang belajar yang menyenangkan.
Tantangan Produksi Film Musikal dengan Pemeran Anak
Membuat film musikal dengan anak sebagai pemeran utama memiliki tantangan yang kompleks. Selain kemampuan akting, pemain anak juga harus mampu bernyanyi, memahami emosi karakter, mengikuti koreografi, serta menjaga keaslian dunia anak dalam cerita.
“Anak sebagai pemeran utama harus mengembangkan kemampuan akting, vokal, emosi dan kedisiplinan, sekaligus tetap menjaga dunia anak agar terasa natural,” kata Herty.
Proses persiapan produksi membutuhkan waktu panjang, terutama dalam memilih pemain yang memiliki keseimbangan kemampuan akting, vokal, dan gerak.
Selain itu, tim produksi juga harus memperhatikan kondisi anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan. Perubahan fisik maupun perkembangan usia menjadi faktor yang harus dipertimbangkan dalam proses produksi film.
Dalam Sahabat Anak, musik ditempatkan sebagai bagian utama dari struktur cerita. Lagu digunakan untuk memperkenalkan karakter, menggambarkan cita-cita, memperkuat konflik emosional, membangun hubungan antar tokoh, hingga menyampaikan pesan akhir film.
Film tersebut juga menghadirkan kembali lagu-lagu anak karya Pak Kasur dengan izin penggunaan dari pihak terkait.
“Kami sangat bersyukur bisa menghidupkan kembali lagu-lagu karya Pak Kasur. Lagu-lagu tersebut sederhana, tetapi pesan dan nilainya sangat kuat. Lagu itu mengajak anak bermain, berteman, bernyanyi, mengenal lingkungan, belajar berbagi dan memahami nilai-nilai kehidupan,” ujar Herty.
Mendorong Masa Depan Film Musikal Indonesia
Menurut Herty, keberadaan film musikal anak memiliki peluang besar untuk berkembang apabila industri mampu menghadirkan karya yang relevan dengan kebutuhan generasi saat ini.
Film anak tidak hanya membutuhkan cerita yang menarik, tetapi juga harus mampu menciptakan pengalaman emosional yang membuat keluarga ingin kembali datang ke bioskop.
“Kami ingin mengembalikan kegembiraan anak Indonesia ke layar lebar. Anak-anak perlu memiliki ruang untuk tertawa, bernyanyi, bermain dan berimajinasi,” tuturnya.
Diskusi “Tantangan Film Musikal di Indonesia” menjadi salah satu bagian dari rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 yang diselenggarakan oleh PT Avatara Lintas Media.
Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan wawasan mengenai proses kreatif, tantangan produksi, hingga peluang pengembangan film musikal di Indonesia.
Lebih dari sekadar pembahasan industri, diskusi ini menegaskan bahwa film musikal memiliki potensi besar sebagai ruang pertemuan antara seni, pendidikan, keluarga, dan kreativitas anak Indonesia. Dengan pendekatan yang tepat, film musikal bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga pengalaman yang dapat membentuk karakter dan membuka potensi generasi masa depan.
