Kemenperin Percepat Transformasi Digital Lewat Penguatan Ekosistem Startup Industri Nasional


Official Launching INDO STARTUP Expo & Forum 2026, Kamis 6/8/2026 di Inspektorat Jemderal Kementrian Perindustrian, Jl Widya Chandra, Jakarta (Foto: I Wayan Bagiartana)

LewatLensa.com – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) semakin mempertegas komitmennya dalam mempercepat transformasi digital sektor manufaktur melalui penguatan ekosistem startup nasional. Di tengah pertumbuhan industri yang terus menunjukkan tren positif, pemerintah menilai startup berbasis teknologi memiliki peran strategis sebagai penggerak inovasi sekaligus penyedia solusi digital yang mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing industri Indonesia di tingkat global.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam peluncuran resmi Indo Startup Expo and Forum 2026 yang berlangsung di Jakarta, Kamis (6/8). Ajang yang akan digelar pada 5–7 November 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, itu diproyeksikan menjadi salah satu platform terbesar yang mempertemukan startup, industri, investor, regulator, hingga komunitas teknologi dalam satu ekosistem kolaboratif.

Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian Republik Indonesia (Foto: I Wayan Bagiartana)

Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pengembangan startup industri merupakan bagian penting dari implementasi Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN). Melalui strategi tersebut, pemerintah berupaya memperkuat struktur industri nasional sekaligus mendorong transformasi digital yang mampu menciptakan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.

Menurut Agus, Indonesia tidak lagi hanya membutuhkan banyak startup, tetapi lebih dari itu, membutuhkan startup yang benar-benar mampu menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan sektor industri.

“Indonesia tidak hanya membutuhkan semakin banyak startup, tetapi startup yang mampu menyelesaikan persoalan nyata di sektor industri. Startup harus menjadi mitra strategis industri nasional dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing sehingga mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas,” ujar Agus.

Startup Jadi Motor Transformasi Industri

Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah industri manufaktur di berbagai negara. Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Internet of Things (IoT), robotika, hingga teknologi manufaktur aditif seperti 3D printing menjadi fondasi penting menuju era Industri 4.0.

Indonesia pun terus mempercepat langkah agar tidak tertinggal dalam kompetisi global. Salah satu strategi yang ditempuh Kemenperin adalah membangun ekosistem startup yang kuat melalui Program Startup For Industry (SFI) yang telah berjalan sejak 2018.

Program tersebut secara konsisten membina startup teknologi agar mampu menghadirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri.

Hingga pertengahan 2026, ekosistem Startup For Industry telah menghimpun 2.577 startup, dengan 1.740 startup atau sekitar 67,5 persen merupakan startup berbasis teknologi.

Dari jumlah tersebut, sekitar 640 startup bergerak di bidang hardware adjacent, seperti Internet of Things (IoT), robotika, Artificial Intelligence (AI), hingga teknologi 3D Printing yang menjadi tulang punggung transformasi industri modern.

Keberadaan startup-startup tersebut dinilai mampu membantu perusahaan manufaktur meningkatkan efisiensi produksi, mengurangi biaya operasional, memperbaiki kualitas produk, hingga mempercepat proses digitalisasi di berbagai sektor industri.

Indonesia Miliki Potensi Besar di Asia Tenggara

Agus juga mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi pusat pertumbuhan startup di kawasan Asia Tenggara.

Berdasarkan Startup Ranking, Indonesia kini menempati peringkat keenam dunia dengan lebih dari 3.100 startup aktif, sekaligus menjadi negara dengan jumlah startup terbanyak di Asia Tenggara.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa jumlah startup yang besar belum sepenuhnya diikuti oleh kualitas ekosistem yang kompetitif di tingkat global.

Mengacu pada Global Startup Ecosystem Index 2026, kualitas ekosistem startup Indonesia masih berada di peringkat ke-45 dunia.

Artinya, tantangan yang dihadapi saat ini bukan lagi sekadar menciptakan startup baru, tetapi membangun startup yang mampu bertahan, berkembang, memperoleh pendanaan, serta menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional maupun global.

“Kita memiliki potensi yang sangat besar, tetapi pekerjaan rumah kita adalah meningkatkan kualitas startup agar mampu bertahan, berkembang, memperoleh pembiayaan, dan menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional maupun global,” jelasnya.

Pertumbuhan Industri Harus Dibarengi Inovasi

Optimisme pemerintah terhadap pengembangan startup juga didukung oleh kinerja sektor manufaktur yang terus menunjukkan performa positif.

Pada Triwulan II Tahun 2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh sebesar 5,32 persen secara year-on-year (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Tak hanya itu, industri manufaktur juga masih menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian Indonesia.

Data Kemenperin menunjukkan sektor industri pengolahan menyumbang sekitar 39,7 persen realisasi investasi nasional, menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, serta memberikan kontribusi sekitar 82 persen atau senilai USD115,5 miliar terhadap total ekspor nasional sepanjang semester pertama 2026.

Menurut Agus, capaian tersebut harus dijaga melalui penguatan inovasi agar pertumbuhan industri berlangsung secara berkelanjutan.

Ia menilai startup memiliki posisi strategis sebagai penyedia teknologi yang mampu menjawab berbagai tantangan industri, mulai dari proses produksi, efisiensi energi, optimalisasi rantai pasok, hingga digitalisasi sistem operasional.

“Pertumbuhan industri harus diiringi dengan peningkatan produktivitas dan inovasi. Di sinilah startup memiliki peran strategis sebagai penyedia solusi teknologi yang mampu menjawab kebutuhan industri dari hulu hingga hilir,” tegasnya.

Fokus Menciptakan Startup yang Layak Didanai

Selain aspek inovasi, Kemenperin juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi startup Indonesia, yakni akses terhadap pendanaan.

Mengacu pada Indonesia Startup Report 2026, nilai pendanaan startup Indonesia sepanjang 2025 hanya mencapai sekitar USD355 juta, mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Padahal, secara global tren investasi startup justru masih menunjukkan pertumbuhan.

Menurut Agus, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa tantangan utama bukan terletak pada terbatasnya modal investasi dunia, melainkan pada kualitas startup yang belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi investor.

Startup yang mampu menunjukkan model bisnis berkelanjutan, solusi yang relevan bagi industri, serta prospek pertumbuhan yang jelas akan lebih mudah menarik minat investor.

“Modal global tidak sedang langka. Yang dibutuhkan adalah startup yang mampu menunjukkan model bisnis yang kuat, memiliki solusi yang dibutuhkan industri, serta memberikan prospek pertumbuhan yang jelas,” katanya.

Pasar IKM Jadi Peluang Besar Startup

Di sisi lain, Indonesia memiliki pasar domestik yang sangat besar untuk pengembangan teknologi industri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat sekitar 4,43 juta unit Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Indonesia.

Jutaan pelaku IKM tersebut dinilai menjadi pasar potensial bagi berbagai solusi digital yang dikembangkan startup nasional.

Mulai dari sistem produksi pintar, aplikasi manajemen usaha, otomasi proses, sistem pembayaran digital, hingga teknologi pemasaran berbasis data, seluruhnya menjadi peluang yang dapat dikembangkan startup Indonesia.

Karena itu, pemerintah berupaya mempertemukan kebutuhan industri dengan solusi yang dimiliki startup sehingga tercipta hubungan bisnis yang saling menguntungkan.

“Bagi startup teknologi, jutaan IKM tersebut merupakan peluang pasar yang sangat besar. Tugas pemerintah adalah mempertemukan kebutuhan industri dengan solusi yang dihasilkan startup sehingga tercipta ekosistem yang saling menguatkan,” ujar Agus.

Indo Startup Expo 2026 Jadi Pusat Kolaborasi Nasional

Sebagai bagian dari strategi memperkuat ekosistem startup, Kemenperin bersama berbagai kementerian, lembaga, asosiasi, investor, komunitas startup, hingga pelaku industri akan menggelar Indo Startup Expo and Forum 2026 pada 5–7 November 2026 di ICE BSD, Tangerang.

Pameran dan forum tersebut dirancang bukan sekadar menjadi ajang promosi startup, melainkan ruang kolaborasi yang menghasilkan peluang bisnis nyata.

Berbagai agenda telah dipersiapkan, mulai dari forum investasi, business matching, Startup Leaders Forum, seminar, demo day, penghargaan startup, pitching session, hingga diskusi strategis yang mempertemukan startup dengan investor, korporasi, regulator, dan calon pengguna teknologi.

Melalui forum tersebut, pemerintah berharap semakin banyak kolaborasi yang mampu melahirkan investasi baru, transfer teknologi, hingga kemitraan jangka panjang antara startup dan sektor industri.

“Saya berharap Indo Startup Expo and Forum tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi menjadi ruang lahirnya transaksi bisnis, kolaborasi investasi, transfer teknologi, serta kemitraan yang berkelanjutan antara startup dengan industri nasional,” ujar Agus.

Gandeng Infineon Perkuat Ekosistem Semikonduktor

Dalam kesempatan yang sama, Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) juga menandatangani kerja sama strategis dengan Infineon Technologies Asia Pacific.

Kolaborasi tersebut difokuskan pada pengembangan startup berbasis teknologi serta penguatan ekosistem industri semikonduktor nasional yang saat ini menjadi salah satu sektor paling strategis di dunia.

Adie Rochmanto Pandiangan, Pelaksana Harian Direktur Jenderal IKMA (Foto: I Wayan Bagiartana)

Pelaksana Harian Direktur Jenderal IKMA, Adie Rochmanto Pandiangan, menjelaskan bahwa kerja sama ini diharapkan mampu mempercepat transfer teknologi, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia Indonesia, sekaligus membuka akses startup nasional ke dalam rantai pasok global.

Selain menggandeng Infineon, Ditjen IKMA juga memperkuat sinergi dengan PT Dayakrea Mega Pradana dalam penyelenggaraan Indo Startup Expo and Forum serta terus mendorong penguatan Asosiasi Startup for Industry Indonesia (Starfindo) sebagai mitra pemerintah dalam membina startup industri.

Menurut Adie, sinergi lintas sektor menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga mampu melahirkan inovasi yang memiliki daya saing internasional.

Sementara itu, Menperin Agus Gumiwang menegaskan bahwa pembangunan ekosistem startup industri merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan ekonomi Indonesia. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, kolaborasi antara pemerintah, industri, investor, akademisi, dan komunitas startup diyakini mampu menciptakan lebih banyak perusahaan teknologi yang tidak hanya tumbuh di dalam negeri, tetapi juga mampu bersaing di pasar global.

“Kami ingin membangun ekosistem startup industri yang semakin kuat sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga menjadi tempat lahirnya inovasi dan solusi teknologi yang mampu memperkuat industri nasional serta bersaing di tingkat global,” pungkasnya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.