
LewatLensa.com – Industri halal Indonesia terus menunjukkan perkembangan signifikan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk dan layanan yang tidak hanya memenuhi prinsip syariah, tetapi juga menjamin kualitas, keamanan, serta keberlanjutan. Kini, konsep halal telah berkembang melampaui aspek keagamaan dan menjadi bagian dari gaya hidup modern sekaligus kekuatan ekonomi baru yang memiliki prospek besar di tingkat nasional maupun global.
Melihat besarnya peluang tersebut, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia bersama Dyandra Promosindo mengambil langkah strategis dengan menggelar Halal Leaders & Creator Gathering di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, pada Selasa (4/8). Mengusung tema “Connecting the People Behind Indonesia’s Halal Future”, kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, media, komunitas, hingga para kreator digital dalam memperkuat ekosistem halal Indonesia menjelang penyelenggaraan Halal Indonesia International Industry Expo (Halal Indo 2026).
Acara ini sekaligus menegaskan bahwa pengembangan industri halal tidak lagi hanya bertumpu pada sektor manufaktur atau regulasi pemerintah, tetapi membutuhkan sinergi lintas sektor, termasuk peran penting para kreator konten dalam membangun persepsi publik dan memperluas adopsi produk halal di masyarakat.
Indonesia Miliki Potensi Pasar Halal yang Sangat Besar
Dalam sambutannya, Pelaksana Harian Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Adie Rochmanto Pandiangan, menekankan bahwa Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pusat industri halal dunia.

Menurutnya, berdasarkan data tahun 2023, jumlah penduduk Muslim Indonesia mencapai sekitar 242,6 juta jiwa, dengan potensi belanja masyarakat yang diperkirakan mencapai Rp11.182 triliun.
Angka tersebut menjadi peluang besar bagi industri nasional untuk memperkuat kapasitas produksi sekaligus meningkatkan daya saing produk halal buatan Indonesia.
“Dengan potensi tersebut, Indonesia memiliki basis kuat untuk mengangkat pertumbuhan industri halal dari skala kecil hingga besar. Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri, memperkuat rantai pasok halal dari hulu hingga hilir, serta mendorong lahirnya inovasi produk yang memiliki nilai tambah,” ujar Adie.
Ia menambahkan, industri halal saat ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga memiliki peluang besar untuk memasuki pasar ekspor yang terus berkembang. Produk halal Indonesia dinilai memiliki potensi kompetitif apabila didukung oleh inovasi, kualitas, serta strategi pemasaran yang tepat.
Kreator Digital Jadi Motor Baru Industri Halal
Dalam era ekonomi digital, Adie menilai bahwa kreator konten memiliki posisi yang semakin strategis dalam membentuk perilaku konsumen. Melalui berbagai platform media sosial, para influencer dan content creator mampu menerjemahkan isu-isu teknis mengenai sertifikasi halal menjadi pesan yang lebih mudah dipahami masyarakat.
Menurutnya, pendekatan kreatif tersebut mampu mengubah cara pandang publik bahwa halal bukan hanya sebatas kepatuhan terhadap regulasi, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup modern yang berkaitan dengan kualitas, keamanan produk, serta nilai keberlanjutan.
“Dalam pengembangan industri halal, kreator berperan penting dalam menerjemahkan berbagai aspek teknis industri menjadi narasi yang sederhana, kreatif, dan relevan. Sehingga halal tidak hanya dipahami sebagai pemenuhan regulasi, tetapi juga sebagai bagian dari lifestyle. Melalui kegiatan ini, kami ingin mempertemukan inovasi industri dengan kreativitas para kreator,” jelasnya.
Karena itu, pemerintah mendorong terciptanya kolaborasi yang lebih erat antara industri, media, dan kreator digital agar kampanye penggunaan produk halal lokal dapat menjangkau generasi muda secara lebih efektif.
Sertifikasi Halal Terus Bertumbuh, Tantangan Ada pada Adopsi Konsumen
Kementerian Perindustrian juga memaparkan capaian positif dalam pengembangan industri halal nasional.
Hingga akhir triwulan II tahun 2024, telah diterbitkan hampir 2,8 juta sertifikat halal yang mencakup lebih dari 5,4 juta produk di berbagai sektor industri.
Meski demikian, peningkatan jumlah sertifikasi tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan konsumsi produk halal buatan dalam negeri. Kondisi inilah yang menjadi perhatian utama pemerintah.
Melalui kolaborasi dengan para kreator digital, pemerintah berharap kampanye penggunaan produk halal Indonesia dapat semakin masif sehingga mampu meningkatkan kebanggaan masyarakat terhadap produk lokal sekaligus memperkuat posisi jenama nasional di pasar domestik maupun internasional.
Kolaborasi Regulasi, Inovasi, dan Branding
Sebagai bagian dari rangkaian acara, peserta mengikuti talk show bertajuk “Unlocking the Future of Halal Lifestyle Economy: Where Policy, Innovation, Beauty, and Influence Create Business Opportunities.”

Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber yang mewakili berbagai aspek dalam ekosistem halal Indonesia, yakni Dewi Setiawati dari Pusat Pemberdayaan Industri Halal Kementerian Perindustrian, Temi Sumarlin selaku CEO Scarf Media, serta Findi Novia, Head Branding Building Wardah Beauty.
Para pembicara membahas bagaimana kebijakan pemerintah, inovasi industri, kekuatan branding, hingga strategi komunikasi digital dapat berjalan beriringan dalam membangun ekonomi halal yang lebih inklusif dan kompetitif.
Mereka juga menyoroti semakin besarnya peran perempuan, komunitas kreatif, serta media digital dalam mempercepat pertumbuhan industri halal Indonesia.
Wardah Hadirkan Pengalaman Halal Lifestyle
Tidak hanya menghadirkan diskusi, penyelenggara juga memberikan pengalaman langsung mengenai konsep halal lifestyle melalui kolaborasi bersama Wardah.
Peserta berkesempatan mengikuti berbagai aktivitas interaktif seperti Personal Color Analysis, Skin Check & Consultation, hingga konsultasi kecantikan bersama para beauty consultant profesional.
Suasana networking juga semakin hidup melalui kehadiran Content Creator Spot, Professional Portrait Corner, serta Creator Interview Corner yang dirancang untuk mendukung para kreator menghasilkan konten berkualitas sekaligus memperluas jejaring kolaborasi di industri halal.
Pendekatan berbasis pengalaman ini menjadi gambaran bahwa industri halal kini telah berkembang menjadi ekosistem gaya hidup yang mencakup berbagai sektor, mulai dari kecantikan, fesyen, makanan dan minuman, farmasi, hingga layanan wisata ramah muslim.
Halal Indo 2026 Siap Digelar Lebih Besar
Momentum Halal Leaders & Creator Gathering juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan visi besar penyelenggaraan Halal Indonesia International Industry Expo (Halal Indo 2026).
Dalam sesi penutup, panitia menampilkan cuplikan perdana mengenai konsep penyelenggaraan pameran yang akan berlangsung lebih besar dibandingkan edisi sebelumnya.
Halal Indo 2026 direncanakan menempati tiga hall utama di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, pada 24–27 September 2026.
Pameran tersebut akan menghadirkan beragam sektor industri halal dalam satu ekosistem terpadu, mulai dari modest fashion, makanan dan minuman halal, kosmetik, farmasi, produk kesehatan, hingga sektor pariwisata ramah muslim.
Melalui perluasan skala pameran dan semakin banyaknya kolaborasi lintas sektor, Halal Indo 2026 diharapkan menjadi platform strategis yang mempertemukan pelaku usaha, investor, pembeli, regulator, komunitas, hingga kreator digital untuk bersama-sama mendorong pertumbuhan industri halal Indonesia.
Lebih dari sekadar ajang pameran, Halal Indo 2026 diproyeksikan menjadi momentum penting dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat industri halal dunia. Dengan dukungan kebijakan pemerintah, inovasi pelaku industri, serta kreativitas media dan content creator, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun ekosistem halal yang semakin kuat, inklusif, dan mampu bersaing di pasar global.