
LewatLensa.com – Prambanan Jazz Festival #12 resmi menutup rangkaian perhelatannya setelah berlangsung selama tiga hari, 3–5 Juli 2026, di kawasan Candi Prambanan, Yogyakarta. Mengusung tema “Celebrate The Joy”, festival musik tahunan besutan Rajawali Indonesia ini kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu festival musik paling bergengsi di Indonesia yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik berkualitas, tetapi juga menjadi ruang pertemuan seni, budaya, kreativitas, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Selama tiga hari penyelenggaraan, lebih dari 85.000 penonton memadati kawasan Candi Prambanan untuk menikmati pengalaman festival yang memadukan keindahan warisan budaya dunia dengan pertunjukan musik lintas generasi dan lintas negara. Festival tahun ini menghadirkan puluhan musisi nasional maupun internasional, program seni budaya, ruang keluarga, hingga berbagai inisiatif keberlanjutan yang semakin memperkuat identitas Prambanan Jazz sebagai festival yang terus berkembang.
Penutupan Berkesan Bersama Henry Moodie dan The Rose
Hari ketiga menjadi penutup yang emosional sekaligus penuh kemeriahan. Penyanyi asal Inggris Henry Moodie berhasil menciptakan suasana hangat melalui lagu-lagu bernuansa pop akustik yang dekat dengan generasi muda. Sementara grup rock alternatif asal Korea Selatan, The Rose, menutup festival dengan penampilan energik yang memukau ribuan penonton.

Kehadiran keduanya melengkapi deretan enam headliner internasional yang tampil sepanjang penyelenggaraan Prambanan Jazz Festival #12, yakni Michael Learns to Rock, NIKI, Joey Alexander, Henry Moodie, dan The Rose, yang menghadirkan warna musik berbeda dalam satu panggung perayaan.

Di antara nama-nama tersebut, Joey Alexander kembali membuktikan kelasnya sebagai pianis jazz Indonesia yang telah menorehkan prestasi di panggung dunia melalui berbagai nominasi Grammy Awards. Sementara NIKI menjadi simbol kuat perjalanan musisi Indonesia yang berhasil membangun karier internasional tanpa melupakan akar dan tanah kelahirannya.
Kehadiran NIKI di Prambanan Jazz menjadi momen istimewa yang seolah menegaskan bahwa sejauh apa pun perjalanan seorang musisi, selalu ada rumah untuk kembali. Sambutan hangat dari ribuan penggemarnya di Indonesia menjadi bukti bahwa karya selalu memiliki tempat di hati publiknya sendiri.
Musik, Seni Rupa, dan Budaya Berpadu di Panggung Prambanan
Tidak hanya menghadirkan konser musik, Prambanan Jazz Festival kembali memperlihatkan kekuatan identitasnya sebagai festival yang mempertemukan berbagai disiplin seni.

Salah satu program yang paling mencuri perhatian adalah pertunjukan Wayang Bocor, karya seniman Eko Nugroho. Program seni pertunjukan ini mencapai puncaknya pada hari terakhir dengan menghadirkan maestro tari dan seni pertunjukan Indonesia, Didi Nini Thowok, yang memberikan sentuhan artistik sekaligus memperkaya pengalaman pengunjung.
Kolaborasi antara musik, seni rupa, dan seni pertunjukan tersebut menjadi bukti bahwa Prambanan Jazz bukan sekadar festival konser, melainkan ruang ekspresi budaya yang terus menjaga relevansi tradisi dalam kemasan modern.
“Playing Jazz”, Ruang Eksplorasi Lintas Genre
Komitmen terhadap perkembangan musik jazz juga kembali diwujudkan melalui program Playing Jazz, yang menjadi salah satu identitas utama festival tahun ini.
Melalui program tersebut, sejumlah musisi dari berbagai genre mendapat kesempatan mengeksplorasi karya mereka dengan pendekatan jazz. Penampilan The Panturas, Perunggu, Salma Salsabil, Rio Febrian, White Chorus, hingga Jogja Hip Hop Foundation memperlihatkan bagaimana jazz mampu bertransformasi menjadi bahasa musik yang inklusif dan terbuka terhadap berbagai warna musikal.
Eksplorasi tersebut mendapat sambutan positif dari penonton karena menghadirkan pengalaman musikal yang berbeda dibanding penampilan reguler para musisi tersebut.
Program Playing Jazz sekaligus menunjukkan komitmen Prambanan Jazz untuk terus memperkuat identitas jazz sebagai akar festival, tanpa membatasi kreativitas lintas genre.
Menyiapkan Generasi Baru Lewat “I’m Jazz A Kids”
Regenerasi musisi jazz Indonesia juga menjadi perhatian utama melalui program I’m Jazz A Kids.
Program pencarian bakat muda tersebut terus menjadi wadah bagi talenta-talenta baru untuk berkembang bersama ekosistem Prambanan Jazz. Para pemenang edisi sebelumnya kembali tampil pada festival tahun ini setelah berhasil merilis karya orisinal yang kini telah tersedia di berbagai platform musik digital.
Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa Prambanan Jazz tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga ruang pembinaan yang memberikan kesempatan bagi musisi muda untuk terus bertumbuh dan dikenal publik.
Panggung Langgam Hadirkan Suasana Intim
Sementara itu, Panggung Langgam kembali menawarkan pengalaman berbeda melalui konsep jazz lounge yang lebih intim.
Selain menghadirkan penampilan Jo Soegono dan Jordan Susanto yang dilengkapi sesi signing session bersama penggemar, panggung ini juga menjadi ruang bertemunya para musisi baru, komunitas jazz, kolektif kreatif, hingga penikmat musik yang ingin menikmati suasana lebih dekat dengan para penampil.
Langgam menjadi salah satu bukti komitmen Prambanan Jazz dalam membangun ekosistem jazz Indonesia melalui ruang kolaborasi yang lebih personal.
Festival yang Semakin Peduli Lingkungan
Selain menghadirkan pengalaman artistik, Prambanan Jazz Festival #12 juga memperkuat komitmennya terhadap isu keberlanjutan lingkungan.
Pada tahun ini, Panggung Langgam menggunakan genset berbahan bakar minyak hasil olahan limbah plastik melalui metode pirolisis bekerja sama dengan Get Plastic. Langkah tersebut menjadi bagian dari inovasi festival dalam memanfaatkan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Tidak berhenti di situ, penyelenggara juga menggandeng Lokalogi sebagai mitra Event Waste Management untuk melakukan pemilahan sampah selama festival berlangsung. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan penyelenggaraan festival yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan kesadaran pengunjung mengenai pentingnya pengelolaan sampah.
Merayakan Budaya dan Kebersamaan
Komitmen terhadap pelestarian budaya Indonesia juga kembali diwujudkan melalui program #BerkainKePrambananJazz.
Program ini mengajak para pengunjung mengenakan kain tradisional Nusantara sebagai bagian dari identitas budaya yang hidup di tengah suasana festival modern. Ribuan pengunjung terlihat mengenakan berbagai motif wastra Nusantara, menciptakan pemandangan unik yang berpadu harmonis dengan megahnya Candi Prambanan.

Sementara itu, Kids Area kembali menjadi ruang favorit keluarga yang ingin menikmati festival bersama anak-anak. Kehadiran area ini mempertegas bahwa Prambanan Jazz merupakan festival yang ramah bagi seluruh generasi, menghadirkan suasana hangat, nyaman, dan penuh kebersamaan.
Apresiasi untuk 85 Ribu Penonton

Founder Prambanan Jazz Festival, Anas Alimi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh penonton yang telah menjadi bagian dari perjalanan festival tahun ini.
“Terima kasih kepada lebih dari 85.000 penonton yang telah hadir. Prambanan Jazz selalu menjadi tempat bagi kita semua untuk pulang dan berbahagia bersama.”
Menurut Anas, semangat kebersamaan yang tercipta selama tiga hari penyelenggaraan menjadi energi utama bagi seluruh penyelenggara untuk terus menghadirkan festival yang lebih baik pada masa mendatang.

Sementara itu, Festival Director Prambanan Jazz Festival, Tovic Raharja, menilai penyelenggaraan tahun ini sebagai langkah awal menuju babak baru pengembangan festival.
“Mungkin tahun ini belum menjadi versi terbaik bagi sebagian penonton. Namun bagi kami, ini adalah versi terbaik dalam menghadirkan berbagai pembaruan sebagai awal babak baru Prambanan Jazz. Semarak yang tercipta menjadi semangat bagi kami untuk menghadirkan pengalaman yang lebih baik di tahun depan.”
Selalu Ada Rumah untuk Pulang
Berakhirnya Prambanan Jazz Festival #12 bukan sekadar penutupan sebuah festival musik, tetapi menjadi penegasan bahwa kebahagiaan dapat lahir dari banyak hal yang saling menguatkan: musik yang menyatukan, seni yang menginspirasi, budaya yang terus dijaga, ruang yang nyaman untuk semua kalangan, kepedulian terhadap lingkungan, serta kebersamaan yang terjalin sepanjang tiga hari penyelenggaraan.
Melalui tema “Celebrate The Joy”, Prambanan Jazz Festival kembali mengingatkan bahwa selalu ada ruang untuk kembali pulang, tempat di mana musik, budaya, dan manusia bertemu dalam suasana penuh sukacita.
Perjalanan berikutnya pun telah menanti. Prambanan Jazz Festival dipastikan akan kembali hadir pada 2027, dengan informasi penjualan tiket Early Bird yang akan diumumkan melalui kanal resmi Prambanan Jazz Festival. Hingga saat itu tiba, semangat “Celebrate The Joy” akan tetap hidup sebagai kenangan indah bagi puluhan ribu orang yang telah menjadi bagian dari perayaan tahun ini.
Foto : Dok. Rajawali Indonesia / Prambanan Jazz Festival