
LewatLensa.com – Komitmen untuk memperkuat ekosistem tari Indonesia kembali diwujudkan melalui penyelenggaraan Ksatria Fest 3.0, sebuah festival dan kompetisi tari tradipop tingkat nasional yang digagas oleh Swargaloka bersama Kelompok Tari Ksatria. Memasuki tahun ketiga pelaksanaannya, ajang ini semakin menegaskan posisinya sebagai wadah pengembangan talenta tari Indonesia yang mampu menjembatani kekayaan tradisi dengan pendekatan populer yang relevan bagi generasi masa kini.
Ksatria Fest merupakan program yang diinisiasi oleh Kelompok Tari Ksatria, grup tari yang dikenal luas setelah meraih gelar Juara 1 dalam ajang Indonesia Mencari Bakat tahun 2021. Berangkat dari pengalaman mereka dalam mengembangkan seni pertunjukan berbasis budaya, Ksatria Fest hadir sebagai ruang kompetisi sekaligus pembinaan bagi para penari dan kelompok tari dari berbagai daerah di Indonesia.
Tahun ini, penyelenggaraan Ksatria Fest menjadi semakin istimewa karena bertepatan dengan perayaan 33 tahun Swargaloka. Tidak hanya menghadirkan kompetisi tari, rangkaian program juga diperluas dengan berbagai kegiatan edukatif dan kolaboratif yang melibatkan seniman, akademisi, praktisi seni pertunjukan, hingga masyarakat umum.
Konsisten Melahirkan Talenta Tari Nasional
Sejak pertama kali diselenggarakan, Ksatria Fest telah menjadi ruang lahirnya talenta-talenta baru dalam dunia tari Indonesia. Pada edisi sebelumnya, kelompok tari Silak dari Yogyakarta berhasil meraih gelar juara pada tahun 2022. Sementara itu, pada tahun 2023, gelar juara diraih oleh Eyes On Us (EOU) asal Kalimantan Barat.
Keberhasilan para pemenang terdahulu menjadi bukti bahwa Ksatria Fest tidak hanya menghadirkan kompetisi semata, tetapi juga menjadi batu loncatan bagi para pelaku seni tari untuk memperluas jejaring, meningkatkan kualitas karya, dan memperoleh pengakuan di tingkat nasional.
Melalui penyelenggaraan tahun ketiga ini, Swargaloka berharap dapat kembali menemukan kelompok-kelompok tari potensial yang mampu menjadi representasi baru seni pertunjukan Indonesia di masa depan.
Mengangkat Konsep Tradipop Sebagai Jembatan Budaya
Salah satu kekhasan Ksatria Fest adalah fokusnya pada konsep tari tradipop, sebuah pendekatan yang memadukan nilai-nilai tradisi dengan kemasan visual yang lebih ringkas, dinamis, dan mudah diterima oleh masyarakat luas.
Menurut Creative Director sekaligus inisiator Ksatria Fest, Bathara Saverigadi Dewandoro, konsep tradipop lahir sebagai jawaban atas kebutuhan industri kreatif modern yang membutuhkan karya tari yang kuat secara visual namun tetap berakar pada identitas budaya.
“Dalam banyak kebutuhan industri, seperti televisi atau media digital, tari tradisi sering kali dipotong secara tidak utuh karena keterbatasan durasi. Tradipop hadir sebagai jawaban—sebuah format tari yang sejak awal dirancang singkat, eye-catching, dan memiliki kekuatan visual. Namun, posisinya bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan sebagai pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal kekayaan budaya yang lebih dalam,” jelas Bathara.
Melalui pendekatan ini, Ksatria Fest berupaya menghadirkan bentuk apresiasi baru terhadap budaya Indonesia yang mampu menjangkau generasi muda tanpa menghilangkan akar dan nilai-nilai tradisional yang menjadi fondasinya.
Bukan Sekadar Kompetisi
Lebih dari sekadar perlombaan, Ksatria Fest dirancang sebagai ekosistem yang berkelanjutan bagi perkembangan seni tari Indonesia. Salah satu inovasi yang dihadirkan adalah pemberian gelar kehormatan kepada para pemenang sebagai simbol tanggung jawab budaya.
Para juara nantinya akan memperoleh gelar:
- Laskar Ksatria Tari Indonesia untuk kategori kelompok.
- Garda Ksatria Tari Indonesia untuk kategori duet.
- Wira Ksatria Tari Indonesia untuk kategori solo.
Menurut Bathara, gelar tersebut bukan hanya penghargaan simbolis, melainkan bentuk amanah bagi para pemenang untuk terus berkontribusi dalam perkembangan dunia tari nasional.
“Gelar ini bukan sekadar simbol, tetapi bentuk tanggung jawab moral untuk berkontribusi dalam perkembangan industri tari serta menginspirasi generasi berikutnya. Kami berharap para pemenang dapat menjadi figur idola baru dalam dunia tari Indonesia, dengan kualitas teknik sekaligus daya tarik yang relevan dengan perkembangan zaman,” ungkapnya.
Konsep ini menjadi langkah strategis untuk menciptakan sosok-sosok panutan baru di dunia tari yang tidak hanya memiliki kemampuan artistik tinggi, tetapi juga mampu menjadi wajah promosi budaya Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.
Rangkaian Program Selama Hampir Satu Bulan
Ksatria Fest 3.0 akan berlangsung mulai 17 Juni hingga 4 Juli 2026 di sejumlah ruang seni bergengsi di Jakarta, antara lain Galeri Indonesia Kaya, Taman Ismail Marzuki, Teater Usmar Ismail, dan Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah.
Adapun rangkaian kegiatan yang akan diselenggarakan meliputi:
- Babak Penyisihan Daring: 4 April – 30 Mei 2026
- Showcase & Press Conference Ksatria Fest: 17 Juni 2026 di Galeri Indonesia Kaya
- Workshop Intensive: 22–25 Juni 2026 di Ruang Latihan Fakultas Seni Pertunjukan IKJ
- Sokalima (Pertunjukan Tari): 28 Juni 2026 di Teater Usmar Ismail
- Workshop Tari bersama Seniman Lokal: 29–30 Juni 2026 di Taman Ismail Marzuki
- Lomba Solo & Duet: 2 Juli 2026 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki
- Lomba Tari Kelompok dan Malam Puncak Apresiasi: 4 Juli 2026 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki
Rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan ruang pembelajaran, eksplorasi artistik, sekaligus kompetisi yang sehat bagi para peserta dari seluruh Indonesia.
Sistem Penilaian Lebih Inklusif
Pada tahun ini, Ksatria Fest menghadirkan sistem penilaian yang lebih terbuka dan inklusif. Selain dinilai oleh lima juri profesional yang memiliki kompetensi di bidang tari dan seni pertunjukan, para peserta juga akan memperoleh penilaian dari publik melalui mekanisme voting.
Voters berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, komunitas pecinta tari, hingga masyarakat umum. Sistem ini memungkinkan karya peserta dinilai tidak hanya dari aspek teknis dan artistik, tetapi juga dari sisi daya tarik, komunikasi pesan, dan relevansi terhadap audiens yang lebih luas.
Dengan pendekatan tersebut, karya yang terpilih diharapkan tidak hanya unggul secara artistik, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menjangkau masyarakat dan beradaptasi dengan perkembangan industri kreatif saat ini.
15 Kelompok Terbaik Melaju ke Semifinal
Pendaftaran kategori kelompok atau Laskar Ksatria Tari Indonesia telah dibuka sejak 10 April hingga 6 Juni 2026. Seluruh peserta diwajibkan mengirimkan karya dalam bentuk video yang kemudian melalui proses kurasi oleh Tim Ksatria.
Dari total 38 pendaftar yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, terpilih 15 kelompok terbaik yang berhasil lolos ke babak semifinal dan akan bersaing secara langsung memperebutkan gelar Laskar Ksatria Tari Indonesia.
Berikut daftar semifinalis Ksatria Fest 3.0:
- Akusara Art (Surakarta)
- Soca Niskala Sunda (Bandung)
- Bejani Art and Dance Studio (Ponorogo)
- Sanggar Tari Sirih Besa (Batam)
- Centaurus (Sidoarjo)
- Arunika Dance Crew (Pontianak)
- Antari’kham (Lampung)
- Sanggar Seni Dharma Budaya (Pasuruan)
- Pancakusuma – Rumah Budaya Langen Kusuma (Blitar)
- Ayu Langgeng Management (Lumajang)
- Efek Samping Jaipongan (Sukabumi)
- Sanggar Patih Gumantar (Mempawah)
- Sanggar Hulondhalangi Entertainment (Gorontalo)
- Terrafic (Yogyakarta)
- Pelita Budaya (Belitung)
Kelima belas kelompok tersebut akan tampil secara langsung dalam babak kompetisi yang akan berlangsung pada 4 Juli 2026 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Menyiapkan Generasi Baru Duta Budaya Indonesia
Melalui penyelenggaraan Ksatria Fest 3.0, Swargaloka menegaskan visi jangka panjangnya untuk membangun ekosistem tari yang lebih kuat, adaptif, dan berkelanjutan. Festival ini tidak hanya berupaya melahirkan penari-penari berbakat, tetapi juga menciptakan generasi baru duta budaya yang mampu membawa kekayaan tradisi Indonesia ke ruang-ruang yang lebih luas.
Dengan menggabungkan kompetisi, edukasi, kolaborasi, dan inovasi artistik dalam satu platform, Ksatria Fest 3.0 diharapkan menjadi momentum penting bagi perkembangan tari Indonesia di tengah dinamika industri kreatif yang terus berubah. Lebih dari sekadar festival, ajang ini merupakan gerakan budaya yang membuka peluang bagi lahirnya karya-karya baru yang inovatif, kompetitif, dan tetap berakar kuat pada identitas bangsa.