
LewatLensa.com – Di tengah lanskap musik modern yang terus bergerak cepat, nama Alexandra Ivanova hadir sebagai sosok yang menawarkan sesuatu yang berbeda. Pianis sekaligus komposer berdarah Bulgaria yang tumbuh besar di Austria ini tidak sekadar memainkan musik, melainkan menjadikan musik sebagai ruang perjumpaan budaya, pengalaman hidup, dan dialog antartradisi.
Melalui Asia & Oceania Tour 2026, Alexandra Ivanova Trio akan membawa perjalanan musikal tersebut ke Indonesia, Australia, hingga China bersama dua musisi internasional: Judith Ferstl, kontrabasis asal Austria, dan Axel Filip, drummer berkebangsaan Argentina. Tur ini menjadi perpanjangan dari eksplorasi panjang Alexandra terhadap berbagai bentuk musik dunia yang selama bertahun-tahun membentuk identitas artistiknya.

Berbeda dari banyak musisi jazz pada umumnya, perjalanan Alexandra tidak dibangun hanya dari pendidikan formal musik. Ia pernah menempuh studi jazz dan ilmu sosial di Dijon, Paris, dan Inggris, sebelum kemudian mendalami bahasa Arab di Lebanon. Pengalaman hidupnya berlanjut ketika ia bekerja di Yordania dan Uni Emirat Arab, mempertemukannya dengan beragam kultur, tradisi, dan perspektif sosial yang perlahan memengaruhi cara pandangnya terhadap musik.
Dari pengalaman lintas negara tersebut, Alexandra mulai mengembangkan pendekatan musikal yang sangat personal. Permainan pianonya tidak hanya dipenuhi elemen jazz modern, tetapi juga memadukan maqam Arab, ritme Balkan yang kompleks, improvisasi bebas, hingga nuansa Afro-Cuban yang kaya groove. Musik baginya bukan sekadar komposisi, melainkan medium untuk memahami manusia dan budaya yang berbeda.
Salah satu momen penting dalam perjalanan artistiknya terjadi pada 2025 ketika Alexandra mengikuti program residensi musik lintas budaya “Soundweavings” di Banff Centre, Kanada. Program tersebut mempertemukan para musisi dari berbagai belahan dunia dalam sebuah ruang kolaborasi kreatif yang intens.
Di tempat inilah Alexandra pertama kali berkenalan dengan instrumen Gendér dari tradisi Gamelan Bali melalui komposer George Rahi. Pertemuan tersebut membuka ketertarikannya terhadap musik Indonesia, khususnya struktur ritmis dan pendekatan musikal yang ia rasa memiliki kedekatan emosional dengan musik Balkan dan Afro-Cuban yang selama ini ia eksplorasi.
Ketertarikan itu semakin berkembang ketika Alexandra mendengar komposisi “Anomali” karya komponis Bali, I Putu Gede Sukaryana atau yang akrab dikenal sebagai Balot. Ia menemukan energi ritmis yang unik dalam karya tersebut—sesuatu yang terasa asing namun sekaligus akrab di telinganya.
Dari rasa penasaran sederhana di studio residensi, muncul keinginan besar untuk datang langsung ke Bali dan bertemu dengan sang komposer.
Perjalanan itu akhirnya terwujud pada September 2025 saat Alexandra melakukan kunjungan selama satu bulan di Bali sebagai Berlin Music Ambassador. Di Pulau Dewata, ia bertemu Balot serta trio Sin Rong yang turut diperkuat Emon Subandi dan Wawan Bracuk. Pertemuan tersebut berkembang menjadi pertukaran artistik yang mendalam.
Mereka menemukan kesamaan minat dalam improvisasi, ritme ganjil, Wayang Kulit, hingga eksplorasi musik transkultural yang tidak terpaku pada batas geografis tertentu. Dari sana, hubungan musikal Alexandra dengan Indonesia tumbuh semakin kuat.
Cerita kemudian berlanjut ke Jakarta. Sebuah komunikasi yang bermula dari korespondensi sederhana dengan Austrian Embassy di Jakarta membuka kesempatan bagi Alexandra untuk menggelar konser solo pertamanya di Indonesia. Sambutan hangat yang ia terima dari publik musik Jakarta menjadi titik awal lahirnya gagasan tur yang lebih besar di kawasan Asia dan Oceania.

Kini, gagasan tersebut hadir dalam bentuk Asia & Oceania Tour 2026. Rangkaian tur dimulai di Jakarta melalui konser di Soundtrip Studio pada 26 Mei 2026. Setelah itu, Alexandra Ivanova Trio tampil dalam “European Jazz Night” di Institut Français Jakarta pada 28 Mei sebelum melanjutkan penampilan di Java Jazz Festival pada 31 Mei 2026.
Dari Indonesia, perjalanan musikal mereka bergerak menuju Australia. Alexandra bersama Judith Ferstl dan Axel Filip dijadwalkan tampil di 21 Shepherd / Livingroom Theatre Sydney pada 3 Juni, Smith’s Alternative Canberra pada 4 Juni, Merimbula Jazz Festival pada 6 Juni, hingga The Jazzlab Melbourne bersama vokalis Sunny Kim pada 9 Juni.
Tur kemudian diteruskan ke China dengan serangkaian pertunjukan di sejumlah venue jazz ternama. Alexandra Ivanova Trio akan tampil di Jazz at Lincoln Center Shanghai pada 12 Juni, disusul Montreux Jazz Festival China di Yanguan Tide & Music City pada 13 Juni, Hangzhou GoodCha pada 14 Juni, JZ Jazz Club Shanghai pada 17 Juni, Rust Jazz Club Changsha pada 18 Juni, Blue Note Beijing pada 21 Juni, dan ditutup melalui konser duo di Dusk Dawn Club Beijing pada 23 Juni 2026.
Namun lebih dari sekadar agenda pertunjukan internasional, tur ini mencerminkan visi artistik Alexandra Ivanova tentang musik sebagai ruang dialog yang setara. Ia percaya bahwa tradisi musik dari berbagai belahan dunia dapat saling bertemu tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.
Melalui piano, improvisasi, dan eksplorasi lintas budaya yang ia bangun bersama para kolaboratornya, Alexandra tidak hanya membawa konser ke berbagai negara, tetapi juga membawa gagasan tentang bagaimana musik mampu menjembatani perbedaan, mempertemukan pengalaman manusia, dan menciptakan percakapan baru di antara tradisi-tradisi dunia.
