Pianis Muda Indonesia Memukau Diplomat Dunia dalam “Music of Europe: A Piano Dialogue Between Europe & Indonesia”

“Music of Europe: A Piano Dialogue Between Europe & Indonesia” (Foto: Ananda Sukarlan)

LewatLensa.com – Jakarta kembali menjadi panggung diplomasi budaya internasional melalui gelaran konser musik klasik bertajuk “Music of Europe: A Piano Dialogue Between Europe & Indonesia” yang berlangsung pada Senin malam, 11 Mei 2026 di Hotel Gran Melia Jakarta. Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut diselenggarakan atas kerja sama Kedutaan Besar Republik Bulgaria di Jakarta bersama Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dalam rangka memperingati Europe Day atau Hari Eropa.

Malam perayaan tersebut menghadirkan perpaduan antara diplomasi, kebudayaan, dan seni musik klasik yang mempererat hubungan antara negara-negara Eropa dengan Indonesia. Kehadiran para diplomat asing, tokoh budaya, hingga pecinta musik klasik menjadikan acara ini sebagai salah satu perhelatan budaya internasional yang berkesan di Jakarta tahun ini.

Perayaan Europe Day sendiri merupakan simbol penting persatuan dan perdamaian di Eropa. Terdapat dua momentum Hari Eropa yang diperingati setiap tahun, yakni pada 5 Mei yang ditetapkan oleh Dewan Eropa (Council of Europe) serta 9 Mei yang dikenal sebagai Hari Schuman oleh Uni Eropa. Peringatan ini merujuk pada Deklarasi Schuman tahun 1950 yang menjadi tonggak awal pembentukan Uni Eropa modern. Seiring waktu, Hari Eropa berkembang menjadi simbol solidaritas, kolaborasi, dan persatuan antarbangsa di kawasan Eropa.

Nuansa diplomatik terasa sejak awal acara melalui sambutan resmi dari Tanya Dimitrova selaku Duta Besar Republik Bulgaria untuk Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Timor Leste, dan ASEAN. Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya seni dan budaya sebagai jembatan penghubung antarnegara dan masyarakat dunia. Sambutan kemudian dilanjutkan oleh Stephane Francois Mechati yang turut menyoroti eratnya hubungan budaya antara Eropa dan Indonesia.

Callista Kertalesmana & Michael Anthony Kwok (Foto: Ananda Sukarlan)

Acara utama malam itu menghadirkan dua pianis muda berbakat penerima penghargaan bergengsi Ananda Sukarlan Award, yakni Callista Kertalesmana dan Michael Anthony Kwok. Penampilan keduanya sukses memukau para tamu undangan dari berbagai negara melalui interpretasi musikal yang matang dan emosional.

Sebelum penampilan utama dimulai, empat pianis muda terlebih dahulu tampil membawakan repertoar pendek yang menunjukkan kualitas generasi baru musisi klasik Indonesia. Mereka adalah Syahreza Valentino Rossi, Aliffia Zahra Adriana, Samhita Ganguly, serta Kendra Bratarini Suprobo. Penampilan mereka menjadi pembuka yang memperlihatkan besarnya potensi talenta musik klasik Indonesia di usia muda.

Sorotan utama kemudian tertuju pada penampilan Callista Kertalesmana, pianis muda kelahiran 12 September 2011 yang telah menorehkan banyak prestasi nasional maupun internasional. Callista mulai belajar piano sejak usia 4,5 tahun di Sekolah Musik Yamaha dan menjalani pelatihan privat bersama Aldora Davita. Saat ini ia memperdalam kemampuan pianonya di bawah bimbingan Alfred Sugiri dan Sofi Natalia, dua musisi yang juga merupakan finalis pertama Ananda Sukarlan Award tahun 2008.

Callista Kertalesmana menerima sertifikat dari Dubes Bulgaria dan Wakil Dubes Uni Eropa (Foto: Ananda Sukarlan)

Meski usianya masih sangat muda, Callista telah meraih berbagai penghargaan prestisius, termasuk juara ketiga Ananda Sukarlan Award 2023 dan juara pertama Kompetisi Piano Yamaha Nasional 2022. Ia juga mencatat prestasi internasional melalui World Piano Teachers Association (WPTA) di Spanyol dan sejumlah kompetisi piano lainnya.

Dalam konser tersebut, Callista tampil memikat dengan membawakan bagian pertama Sonata “Pathetique” karya Ludwig van Beethoven serta Rapsodia Nusantara No. 20 karya Ananda Sukarlan. Karya Rapsodia Nusantara tersebut mengolah lagu rakyat Jawa Tengah “Padhang Wulan” menjadi komposisi penuh dinamika dengan teknik repetitif yang menuntut ketahanan fisik, ketepatan, dan virtuositas tinggi. Permainan Callista menuai apresiasi meriah dari para tamu internasional yang hadir.

Tak kalah memukau, Michael Anthony Kwok yang merupakan pemenang terbaru Ananda Sukarlan Award 2025 tampil dengan musikalitas luar biasa. Pianis berusia 21 tahun itu berhasil meraih penghargaan tertinggi dalam kompetisi tersebut berkat kemampuan artistik dan interpretasi musiknya yang dinilai melampaui peserta lainnya.

Michael Anthony Kwok menerima sertifikat dari Dubes Bulgaria & Wakil Dubes Uni Eropa (Foto: Ananda Sukarlan)

Michael, yang dikenal sebagai penyandang autisme dan ketunanetraan, membuktikan bahwa kualitas musikal menjadi faktor utama atas keberhasilannya. Prestasi tersebut juga membawanya memperoleh beasiswa penuh dari Institut Francais d’Indonesie untuk mengikuti kursus musim panas di Paris pada Juni mendatang.

Di hadapan para diplomat dan tamu undangan, Michael membawakan Le Tombeau de Couperin karya komponis Prancis Maurice Ravel dengan interpretasi yang penuh kedalaman emosional. Ia juga memainkan Rapsodia Nusantara No. 44 karya Ananda Sukarlan yang secara khusus diciptakan sebagai penghormatan atas kemenangan Michael di ajang ASA 2025. Karya tersebut rencananya juga akan dipentaskan di Paris dalam konser Michael pada Juni mendatang.

Perjalanan musikal Michael dimulai bersama guru piano Ivana Tjandra sebelum melanjutkan studi bersama Randy Ryan, lulusan Juilliard School of Music New York sekaligus pemenang Ananda Sukarlan Award 2012 yang dikenal sebagai salah satu pianis terbaik Indonesia saat ini.

Konser diplomatik tersebut turut dihadiri sejumlah duta besar negara sahabat, di antaranya Nikos Panayiotou, Ahmed Abdulla Ahmed Alharmasi Alhajeri, Dr. Sultan bin Mubarak Al Dosari, Marc Gerritsen, Cristina Gonzalez, Sten Frimodt Nielsen, George Monteiro Prata, Bernardo de Sicart Escoda, serta Mohamed Trabelsi.

Selain kalangan diplomatik, hadir pula sejumlah tokoh dari komunitas internasional dan sosialita Jakarta, termasuk jajaran Women International Club seperti MaryAnne Obusan Widjaja dan Rita Pusponegoro. Acara juga dihadiri Morris Tiedemann selaku General Manager Hotel Ayana Jakarta serta Chendra Effendy Panatan.

Malam konser kemudian ditutup dengan sesi resepsi dan ramah tamah yang memberikan kesempatan bagi para tamu untuk berinteraksi langsung dengan para pianis muda Indonesia. Suasana hangat dan apresiatif yang tercipta menjadi bukti bahwa musik mampu melampaui batas negara, bahasa, dan budaya.

Melalui konser “Music of Europe: A Piano Dialogue Between Europe & Indonesia”, Indonesia kembali menunjukkan kualitas generasi muda di bidang musik klasik yang mampu tampil di panggung internasional dan mendapatkan pengakuan dari komunitas diplomatik dunia. Acara ini sekaligus mempertegas peran seni sebagai medium diplomasi budaya yang efektif dalam mempererat hubungan antarbangsa.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.