
LewatLensa.com – Pianis dan komponis ternama Indonesia, Ananda Sukarlan, bersama komunitas budaya The Bimasena menggelar jamuan buka puasa (iftar) yang hangat dan penuh makna bersama para duta besar serta perwakilan diplomatik dari berbagai negara. Acara yang berlangsung pada Rabu, 4 Maret lalu di restoran Rooang, The Bimasena, Hotel Dharmawangsa Jakarta ini menjadi momen silaturahmi sekaligus ruang dialog budaya melalui pendekatan diplomasi seni.

Tujuh diplomat beserta pasangan mereka hadir dalam acara tersebut, yakni Duta Besar Armenia Serob Bejanyan, First Secretary Kedutaan Besar Australia Kristopher Maslin, Duta Besar Siprus Nikos Panayiotou, Duta Besar Guatemala Manuel Estuardo Roldan Barillas, Wakil Duta Besar Irlandia Éira McDermott, Duta Besar Rumania Dan Adrian Bălănescu, serta Duta Besar Tunisia Mohamed Trabelsi.
Turut hadir pula salah satu pendiri The Bimasena, Hariadi Jasim, bersama putrinya Ria Jasim. Dalam kesempatan tersebut, Ananda Sukarlan didampingi manajernya, Chendra Effendy Panatan, serta sejumlah perwakilan dari Bimasena seperti Adriel M. Simorangkir (Managing & Culinary Director), Saras Soedibyo, dan Fitria Passau. Hadir pula perwakilan dari Artotel Group yakni Lugiano Rubio dan Andri Meilani Kusim.
Suasana buka puasa berlangsung santai dan penuh keakraban. Para tamu menikmati beragam hidangan khas Indonesia yang diramu secara khusus oleh Chef Lionel. Dalam kesempatan tersebut, Ananda Sukarlan dan manajernya juga tampil mengenakan busana tenun rancangan desainer Indonesia, Franceline Sri Rosdhanimurti, melalui label desain Rosdhani.
Diplomasi Lunak Melalui Seni
Bagi Ananda Sukarlan, kegiatan seperti ini merupakan bagian dari diplomasi lunak melalui seni yang telah lama ia jalankan. Pianis yang dikenal aktif memperkenalkan musik Indonesia di dunia internasional ini pernah menjadi seniman Indonesia pertama yang diundang oleh Portugal pada tahun 2000, tak lama setelah hubungan diplomatik antara Indonesia dan negara tersebut kembali terjalin.
Melalui kompetisi musik yang ia dirikan, Ananda Sukarlan Award (ASA), kolaborasi internasional juga terus berkembang. Salah satunya melalui dukungan dari Prancis yang memberikan beasiswa kepada pemenang ASA 2025, Michael Anthony Kwok, untuk memperdalam musik di Prancis sekaligus memperkenalkan musik Indonesia di sana. Dukungan serupa juga akan datang dari Australian Institute of Music di Sydney yang akan memberikan kesempatan bagi pemenang kompetisi tersebut tahun depan.
Dalam waktu dekat, Ananda Sukarlan juga akan tampil bersama pianis Jepang Takeshi Kakehashi dalam konser di Soehanna Hall pada 5 April mendatang. Selain itu, ia juga dijadwalkan berkolaborasi dengan musisi dari Vienna Philharmonic pada bulan Juni.
Penghargaan Internasional
Kontribusi Ananda Sukarlan dalam dunia musik klasik dan diplomasi budaya juga diakui secara internasional. Ia pernah dianugerahi penghargaan sipil tertinggi dari Kerajaan Spanyol, Real Orden de Isabel la Católica, serta menerima gelar kesatriaan Cavaliere Ordine della Stella d’Italia dari Presiden Italia Sergio Mattarella pada tahun 2020.
Namanya juga tercatat sebagai salah satu tokoh dalam buku Heroes Amongst Us (Pahlawan di Antara Kita) karya Amit Nagpal yang diterbitkan oleh Oakbridge Publishing di India. Selain itu, Ananda juga masuk dalam daftar Asia’s Most Influential di bidang seni versi Tatler Asia pada tahun 2020.
Warisan Budaya The Bimasena
The Bimasena sendiri memiliki sejarah panjang sebagai ruang dialog lintas bidang. Klub ini didirikan pada tahun 1997 oleh tokoh energi Indonesia, Prof. Dr. Soebroto, yang dikenal sebagai mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia serta pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal OPEC.
Selain dikenal sebagai ekonom dan negarawan, Prof. Soebroto juga merupakan pecinta seni dan musik klasik. Semangat tersebut kemudian menjadi fondasi berkembangnya Bimasena sebagai ruang pertemuan yang mendorong dialog intelektual, budaya, dan kreativitas lintas komunitas.
Selama bertahun-tahun, Bimasena terus memperluas perannya dalam menciptakan atmosfer budaya yang mendorong interaksi bermakna bagi kemajuan masyarakat. Restoran Rooang, tempat berlangsungnya acara “Diplomat’s Dinner” ini, dirancang sebagai ruang hidup bagi ide-ide—tempat di mana seni, budaya, dan persahabatan bertemu dalam suasana yang intim dan reflektif.
Seni sebagai Bahasa Universal
Di tengah dunia yang semakin terhubung, pertukaran budaya dan seni antarnegara menjadi semakin penting. Kolaborasi lintas budaya bukan hanya memperkaya kreativitas, tetapi juga menjadi jembatan pemahaman yang sering kali melampaui batas-batas diplomasi formal.
Melalui musik, seni rupa, sastra, hingga pertunjukan, manusia dapat saling berbagi pengalaman universal—tentang cinta, harapan, perjuangan, dan ketahanan. Ketika seniman dari berbagai latar belakang berkolaborasi, lahir karya-karya baru yang memadukan tradisi dengan inovasi.
Interaksi semacam ini juga memainkan peran penting dalam membangun empati dan mengurangi prasangka. Dengan terlibat langsung dalam pengalaman budaya lain, masyarakat dapat melihat perbedaan sebagai kekayaan, bukan sekadar batasan.
Lebih dari itu, pertukaran budaya juga memberikan dampak nyata secara sosial dan ekonomi. Ia mendukung industri kreatif, memperkuat sektor pariwisata, melestarikan tradisi yang terancam punah, serta memicu inovasi di berbagai bidang.
Pada akhirnya, kolaborasi budaya dan seni mengingatkan dunia akan kemanusiaan yang sama di balik keragaman. Dengan merangkul pertukaran tersebut, negara-negara tidak hanya berinvestasi dalam estetika, tetapi juga dalam fondasi bagi perdamaian, dialog, dan kemajuan yang berkelanjutan.