Ananda Sukarlan & Rabindranath Tagore Menyatukan Seni India dan Indonesia

Penampilan Ananda Sukarlan & Iva Khuang, soprano finalis Ananda Sukarlan Award (Foto: Dok. Ananda Sukarlan)

LewatLensa.com – Hubungan seni antara India dan Indonesia kembali terjalin erat melalui karya lintas budaya yang sarat makna. Komponis dan pianis ternama Indonesia, Ananda Sukarlan, mempersembahkan perdana tiga tembang puitik berdasarkan puisi karya Rabindranath Tagore dalam sebuah konser eksklusif yang digelar di The Dharmawangsa Hotel, Jakarta Selatan, pada Minggu, 18 Januari.

Tiga puisi Tagore yang dialihwahanakan ke dalam bentuk musik tersebut berjudul Passing BreezeMy Song, dan Go Not To The Temple. Karya terakhir memiliki nilai historis tersendiri karena ditulis Rabindranath Tagore saat berkunjung ke Bali, menjadikannya simbol kuat pertemuan budaya India dan Indonesia yang kini kembali dipertegas melalui musik.

Konser ini menjadi penutup rangkaian perayaan pernikahan pasangan Anjuli dan Varun. Anjuli merupakan putri dari seniman India terkemuka, Arti Gidwani, dan suaminya Anil. Perayaan pernikahan yang berlangsung selama akhir pekan 17–18 Januari tersebut digelar secara istimewa di India dan Jakarta, dengan malam penutup yang dirancang eksklusif bagi tamu VVIP dan para penikmat seni.

Mantan Dubes Kerajaan Inggris untuk RI dan Istri, Moazzam & Rachel Malik, menyimak konser (Foto: Dok. Ananda Sukarlan)

Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh crème de la crème dari berbagai latar belakang, baik nasional maupun internasional. Dari dalam negeri hadir desainer Poppy Dharsono, pengusaha Karlina Damiri dan Sari Kusumaningrum, serta penulis dan tokoh kuliner Petty Elliott. Sementara dari kalangan diplomatik tampak sejumlah duta besar dan perwakilan negara sahabat, di antaranya mantan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik beserta istri, Duta Besar Armenia Serob Bejanyan dan istri, Duta Besar Austria Thomas Loidl dan istri, Dubes Polandia Barbara Szymanowska, Dubes Hungaria Lilla Karsay, Dubes Panama Manuel Antonio Saturno Escala, Dubes Swiss Olivier Zehnder dan istri Frédérique Zehnder-Mérot, istri Dubes Bangladesh Humaira Ayesha Khan, serta Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty bersama istri.

Ananda Sukarlan bersama Dubes India untuk RI, Sandeep Chakravorty (Foto: Dok. Ananda Sukarlan)

Dalam konser tersebut, Ananda Sukarlan juga membawakan sejumlah karya piano solo yang dikenal virtuosik dan populer di kalangan penikmat musik klasik, seperti Rapsodia Nusantara No. 36 dan No. 39—yang uniknya dimainkan hanya dengan tangan kiri—serta Variations on Mendelssohn’s “Wedding March” yang dikemas dengan nuansa musikal Jawa dan Bali.

Untuk pementasan perdana Three Poems of Rabindranath Tagore, Ananda mempercayakan part vokal kepada soprano Iva Khuang, peraih gelar Master of Music dari Codarts Conservatory, Rotterdam. Iva Khuang juga dikenal sebagai finalis Ananda Sukarlan Award 2021 dan tampil memukau dalam menghidupkan puisi-puisi Tagore lewat olah vokal yang ekspresif dan mendalam.

Ananda Sukarlan & Iva Khuang, soprano finalis Ananda Sukarlan Award (Foto: Dok. Ananda Sukarlan)

Kedekatan hubungan Ananda Sukarlan dengan dunia seni India bukanlah hal baru. Hal ini bahkan telah dicatat oleh Dr. Amit Nagpal dalam bukunya Heroes Amongst Us, terbitan Oakbridge Publishing, India. Buku tersebut memuat kisah 32 tokoh inspiratif Asia dari berbagai bidang, termasuk kontribusi Ananda dalam membangun dialog budaya melalui musik.

Tahun 2026 juga menjadi penanda penting bagi hubungan musikal India–Indonesia dengan dirilisnya rekaman Ananda Sukarlan yang membawakan karya komponis India, Naresh Sohal (1939–2018). Naresh Sohal dikenal sebagai komponis India pertama dalam tradisi “klasik Barat” yang menulis musik berbasis teks berbahasa Punjabi dan Bengali. Rekaman ini dirilis dalam format compact disc oleh label Heritage Records, serta telah tersedia di berbagai platform digital seperti Spotify dan YouTube.

Lahir di Punjab, India, Naresh Sohal merupakan orang India Non-Residen (NRI) pertama yang dianugerahi Padma Shri, salah satu penghargaan sipil tertinggi dari Pemerintah India. Ia dikenal sering menghadiri konser Ananda Sukarlan bersama pemain cello ternama asal Sri Lanka, Rohan de Saram, setiap kali keduanya tampil di London.

Dari pertemanan dan kekaguman tersebut, Naresh Sohal terinspirasi menciptakan karya berjudul Foray, yang secara khusus ditulis untuk Ananda Sukarlan dan Rohan de Saram. Karya ini kemudian diakui sebagai salah satu mahakarya untuk piano dan cello, dan terus dibawakan oleh berbagai duo internasional, khususnya setelah wafatnya Rohan de Saram pada tahun 2024.

Ananda Sukarlan bersama desainer Poppy Dharsono, pengusaha Sari Kusumaningrum, Karlina Damiri, koreografer Chendra E. Panatan setelah konser (Foto: Dok. Ananda Sukarlan)

Foray dipesan oleh BBC Spitalfields Festival dan diperdanakan pada 6 Juni 2006 oleh Sukarlan dan de Saram, sebelum kemudian dipentaskan di berbagai negara Eropa. Rekaman BBC dari karya tersebut yang kini dirilis menjadi tambahan dokumentasi penting dalam sejarah hubungan budaya India dan Indonesia melalui musik klasik.

Melalui karya, kolaborasi, dan dedikasi lintas budaya ini, Ananda Sukarlan kembali menegaskan peran seni sebagai jembatan yang melampaui batas geografis dan bahasa, mempererat persahabatan dua bangsa besar lewat harmoni musik dan puisi.

Ananda Sukarlan bersama Women International Club setelah konser (Foto: Dok. ananda Sukarlan)

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.