Lions Club dan Metro TV Gelar PANGGUNG TALENTA Sebagai Ajang Berprestasi Para Difabilitas

LewatLensa.com – Lions Club International cabang Indonesia tahun ini bekerjasama dengan Metro TV membuat gebrakan untuk para sahabat difabel. Kegiatan PANGGUNG TALENTA ini merupakan agenda rutin Lions Club yang sudah dilaksanakan sejak tahun sebelumnya. Animo besar dari masyarakat difabel Indonesia yang jumlahnya sudah mencapai 22,5 jt membuat panitia bekerja keras karena harus menseleksi hampir 600 video dari seluruh nusantara.

Lions Club International didirikan 8 Oktober 1917 di Dallas, Texas dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Untuk pertama kali bendera Lions Clubs berkibar di Indonesia pada tahun 1969, sejak club pertamanya resmi diakui oleh pemerintah, sesuai dengan namanya LIONS (Liberty, Intelligence, Our Nation’s Safety), organisasi kemanusiaan ini telah lahir di alam bebas Indonesia dalam era Orde Baru.

Sebetulnya organisasi sosial yang didirikan oleh masyarakat ini telah pernah terbentuk dimasa Orde lama dalam tahun 1962 oleh bapak P. Sugiharto, SH, mantan Duta besar RI di India, tetapi segera dibekukan sebelum sempat diresmikan, karena waktu itu organisasi asing ataupun yang berafiliasi dengan luar negeri masih dilarang di Indonesia, tetapi kemudian perkembangan sejarah menyambut kelahirannya di bumi Pancasila ini, ketika bertugas di India sebagai Dubes, P.Sugiharto melihat sendiri betapa berkembangannya Lions Clubs disana.

“Panggung Talenta” mengkhususkan kepada anak-anak dengan disabilitas yang berkarya dan berprestasi. Di ajang ini mereka menampilkan berbagai kebolehan menari, gerak pantomim, melukis, dan bermain musik. dukungan keluarga yang membuat mereka, terutama peserta dari luar daerah datang ke Jakarta untuk mengikuti karantina dan pelatihan dari berbagai pelatih seni tari, musik dan pertunjukan. Mereka juga mendapatkan pelatihan kepemimpinan dan kemandirian dari Perkumpulan Lions Indonesia.

Para peserta panggung talenta pun trus berjuang masuk seleksi 20 besar, lalu memilih 14 besar pada konser eliminasi di 12 mei bertempat di kantor Walikota Jakarta Selatan, lalu menjadi hanya 8 besar di konser eliminasi kedua. Akhirnya terpilih 3 terbaik pada Minggu 19 Mei 2024 lalu secara langsung.

Kategori 3 terbaik dipilih, tanpa menentukan sang juara. Dikarenakan kompetisi ini menampilkan bakat yang berbeda dalam tiap kategori.

Mereka adalah Septiandi Aldien musisi netra berbakat dengan talenta piawai memainkan saxofon dan piano asal Jakarta, grup musik netra Puser Bumi yang memukau dengan aksi panggung modern tradisional, serta Duo Urba dan Said penyanyi asal Jogjakarta. Masing-masing mendapat Rp30 juta.

Dewan Juri “Panggung Talenta” (Foto : Ananda Sukarlan)

Para Dewan Juri yang terdiri dari koreografer Denny Malik, aktris Nirina Zubir dan penyanyi Anton Mirsaputra, juga cukup kewalahan memilih anak anak bertalenta spesial ini. Di malam final yang disiarkan secara langsung oleh Metro TV, dihadirkan juri tamu spesial yaitu pianis dan komponis yang bereputasi internasional, Ananda Sukarlan.

Ananda Sukarlan sudah “biasa” berinteraksi dengan kaum yang disebutnya “difabel”, yaitu Different Ability ini. Selain ia adalah penyandang Sindrom Asperger (Asperger’s Syndrome dari spektrum autisme) sejak lahir, pianis musik klasik yang dijuluki “one of the world’s leading pianists at the forefront of championing new piano music” oleh harian Sydney Morning Herald ini memang sejak tahun 2006 bekerja dengan sebuah yayasan di Spanyol yang mengundang 10 komponis dunia (antara lain Ananda juga David del Puerto, Jesus Rueda, Polo Vallejo, Santiago Lanchares dll.) untuk bekerjasama dengan anak-anak berkebutuhan khusus secara fisik dan menciptakan musik untuk mereka. “Kalau seorang anak berbakat musik, keterbatasannya tidak boleh menghalanginya untuk memainkan instrumen. Disabilitas itu bukan milik penyandangnya, tapi yang dilakukan oleh masyarakat sekelilingnya. Kalau sebuah tempat memberi akses terhadap kursi roda, mereka yang butuh kursi roda tidak lagi menjadi disabilitas. Demikian juga musik”, kata Ananda Sukarlan dalam percakapan eksklusif dengan lewatlensa.com

Itu sebabnya Ananda dan 10 komponis dunia dari proyek Yayasan “Musica Abierta” di Spanyol tersebut telah menuliskan puluhan karya piano dan instrumen lain yang bisa dimainkan oleh satu tangan saja, atau beberapa jari saja, atau tanpa pedal (karena kaki sang pianis tidak berfungsi). Karya-karya ini bertujuan dari mulai pendidikan dasar bermusik sampai karya untuk konser dengan virtuositas tinggi seperti “Rapsodia Nusantara”.

Ananda Sukarlan merupakan warga negara Indonesia pertama yang menerima anugerah tertinggi Kerajaan Spanyol, Real Orden de Isabel la Catolica dari Yang Mulia Raja Felipe VI. Sebelumnya, Ananda Sukarlan pernah dianugerahi gelar ksatria ‘Cavaliere Ordine della Stella d’Italia’ oleh Presiden Sergio Mattarella pada 2020. Di Indonesia, Ananda telah diangkat menjadi Honorary Member (Anggota Kehormatan) Rotary Club International cabang Indonesia tahun 2023 lalu di cabang Rotary Menteng.

Acara final hari Minggu 19 Mei lalu juga mengundang penyanyi Marcell Siahaan sebagai bintang tamu.

Marchell Siahaan (Foto : Ananda Sukarlan)

Banyak pihak mendukung juga berkomitmen memberikan platform bagi para penyandang disabilitas untuk bersinar dan membuktikan bahwa mereka mampu berkontribusi bagi masyarakat dari Panggung Talenta, para difabel tidak hanya menunjukkan kemampuan yang luar biasa, tetapi juga determinasi yang menginspirasi banyak orang. Hal ini menunjukkan bahwa setiap hambatan dapat diatasi dengan semangat yang tinggi.

Konser ini diharapkan tidak hanya akan menjadi ajang hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan advokasi untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya dukungan terhadap difabel. Melalui “Panggung Talenta” Peter C. Djajadi, District Governor Lions Club menaruh harapan untuk memotivasi lebih banyak lagi institusi dan individu untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung hak-hak difabel dan berharap semua mata bisa tertuju pada sahabat disabilitas dan membuka peluang masa depan.

Panggung Talenta bukanlah sekedar ajang performa melainkan pancaran kekuatan diri yang ditunjukan dengan tujuan kemandirian dan daya saing. Karena mereka bukan berkebutuhan khusus, tapi mereka adalah Insan Berkemampuan Khusus. Seperti kita ketahui, tokoh seperti Elon Musk dan aktor Anthony Hopkins adalah juga penyandang Asperger’s Syndrome seperti Ananda Sukarlan.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.